Minggu, 22 November 2020

WACANA KENABIAN SETELAH MUHAMMAD

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu keyakinan dalam ajaran agama Islam yang tidak dapat diganggu gugat adalah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah kepada seluruh bangsa di dunia, Muhammad SAW adalah penutup seluruh para nabi dan rasul, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah ia, sebagaimana firman Allah SWT dalam alquran sebagai berikut:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.[1]

Dalam kajian ini akan ditelaah hadis tentang kenabian setelah Muhammad SAW yang dilakukan dengan pendekatan hadis tematik di mana akan dihimpun hadis-hadis yang berkaitan dengan kenabian setelah Muhammad SAW yang selanjutnya akan dilakukan penelusuran hadis hadis tersebut sehingga akan diketahui dan dipahami dalil-dalil tentang kenabian setelah Muhammad SAW dalam kajian Hadis sebagai sumber hukum Islam kedua.

 Signifikansi pembahasan ini adalah untuk memahami kenabian setalah Muhammad SAW yang bersumber dari hadis guna untuk disampaikan ketengah-tengah masyarakat yang di rujuk secara sitematis dan terperinci sehingga dapat dirumuskan pembahasan ini berupa pengertian Nabi, maupun hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan tentang kenabian setelah Muhammad serta yang paling terpenting adalah penelusuran hadis tentang kenabian setelah Muhammad SAW yang  dilakukan dengan menenlusuri Takhrij hadis, Kritik sanad dan matan, Asbabul Wurud, pemahaman Terhadap Teks hadis dan perumusan konsep tentang pemunculan tema tertentu dalam bidang agama dan filsafat.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Nabi

Kata nabi terulang dalamAl-Qur'an sebanyak 76 kali[2]berasal dari bahasa arab naba’ yang berarti warta (al-khabar),[3] berita (tidings), informasi (information), laporan (report). Dalam bentuk transitif (anba’a‘an) ia berarti memberi informasi (to inform), meramal (to predict), to foretell (menceritakan masa depan). Bentuk jamak dari istilah ini adalah nabiyyun dan anbiya’, sedangkan nubuwwah adalah bentuk al-masdar (kata benda, noun) dari na-ba-‘a yang berarti kenabian (prophecy, ramalan atau prophethood, kenabian), sifat (hal) nabi, yang berkenaan dengan nabi.[4]

Dalam bahasa Inggris, nabi biasa disebut dengan prophet yang berarti seseorang yang mengajarkan agama dan mengklaim, mendapatkan inspirasi dari Tuhan dan prophetes sebutan untuk nabi perempuan, sedang dalam bahasa Yunani prophetes berarti orang yang mengkomunikasikan wahyu Tuhan. “kata Prophetes diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew menjadi kata nabi. Secara etimologis, kata ini berarti “memanggil”, “berbicara keras”. Ada juga yang secara langsung mengartikan sebagai “orang yang dipanggil Tuhan untuk berbicara atas nama-Nya”.[5]

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Wujud fisik ini tidak mungkin ada tanpa Nabi, sedangkan Ibnu Sina, misalnya, mensinyalir adanya tiga kelompok manusia di dunia ini. Pertama, orang yang tidak punya kecakapan teoritis dan praktis. Kedua, orang yang punya kecakapan teoritis dan praktis hanya pada dirinya sendiri dan tidak mampu menyempurnakan orang lain. Ketiga, adalah orang yang punya kecakapan teoritis dan praktis sekaligus, serta mampu mentransformasikannya kepada orang lain. Inilah sesungguhnya yang disebut sebagai Nabi.

Pendapat pertama dan kedua menyatakan bahwa nabi adalah seorang yang kekuatan kognitifnya mencapai akal aktif, yakni malaikat Jibril, Hakikat akal aktif itu sesungguhnya adalah batasan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Pendeknya, seorang Nabi adalah orang yang mampu berkomunikasi bukan saja dengan Tuhan tetapi juga kepada manusia. Sebab, bagi Ibnu Sina, tugas kenabian sesungguhnya juga memerankan fungsi politik, dalam arti mampu menuntun manusia untuk mengetahui hukum baik-buruk dan memberikan teladan kepada mereka untuk melaksanakannya.[6]

B. Kenabian Setelah Muhammad SAW

Telah menjadi keyakinan yang asasi dalam Islam, bahwa Muhammad SAW adalah nabi sekaligus rasul terakhir. Maka sebagai bagian dari prinsip keimanan, tak ada tawar-menawar dalam perkara ini. Tidak ada pula kemungkinan bagi datangnya “kebenaran baru”, sebagaimana diistilahkan para pembela ajaran nabi palsu.

Merupakan aqidah yang paten, keyakinan yang kokoh melebihi kekokohan gunung-gunung yang tinggi menjulang, bahwa kenabian dan kerasulan telah ditutup dengan kenabian dan kerasulan Nabi kita Muhammad SAW, sehingga dialah Nabi dan Rasul terakhir. Keyakinan demikian merupakan penegasan dari atas tujuh langit, dari Allah sebagai tuhan semesta alam.Ibnu Katsir mengatakan:

“Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar atas umat ini, di mana Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka. Sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain agama mereka. Tidak butuh pula kepada nabi selain Nabi mereka. Oleh karenanya, Allah menjadikannya sebagai penutup para Nabi serta Allah utus dia kepada manusia dan jin..

Demikian disebutkan oleh para mufassir baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah maupun selainnya seperti ditegaskan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, Ibnu Katsir, Abu Hayyan, Al-Khazin, An-Nasafi, Fakhruddin Ar-Razi, Az-Zamakhsyari, dan kalangan ahli tafsir selain mereka rahimahumullah. Tidak ada yang menyelisihi mereka kecuali orang-orang belakangan, dan yang tidak memahami bahasa Arab yang dengan bahasa ini Allah turunkan Al-Qur`an.

C. Hadis-Hadis Tentang Wacana Kenabian Setelah Muhammad SAW

1.      Nabi Muhammad SAW bersabda:

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِابْنِ مَرْيَمَ، الْأَنْبِيَاءُ أَوْلادُ عَلَّاتٍ وَلَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ. قَالَ: فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ n: مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ قَصْرٍ أُحْسِنَ بُنْيَانُهُ وَتُرِكَ مِنْهُ مَوْضِعُ لَبِنَةٍ فَطَافَ بِهِ نُظَّارٌ فَتَعَجَّبُوا مِنْ حُسْنِ بُنْيَانِهِ إِِلاَّ مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ لاَ يَعِيبُونَ غَيْرَهَا فَكُنْتُ أَنَا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ خُتِمَ بِيَ الرُّسُلُ

"Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta'juk lalu berkata: "kenapa kamu tidak taruh batu ini.?" Nabi menjawab: Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi" (Ibnu Hibban, bab Dzikru Tamtsilil Mushthafa ma’al Anbiya` bil Qashril Mabni, 14/361) Dalam lafadz Al-Bukhari dan Muslim (وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ) “Dan aku adalah penutup para Nabi, HR. Al-Bukhari, Kitabul Manaqib, Bab Khataminnabiyyin, Muslim, Kitabul Fadha`il, Bab Dzikru Kaunihi Khatamannabiyyin)

Pemahaman yang dapat kita ambil dari hadis ini bahwa nabi-nabi terdahulu sebelum Muhammad SAW telah menerima risalah dari Allah guna menata ummat manusia menurut kemampuan mereka sehingga manusia tersinari cahaya keimanan kepada Allah SWT, tetapi tidak semuanya mampu untuk diberi petunjuk sehingga Muhammad SAW datang untuk memberi penerangan kepada manusia yang belum menerima petunjuk tersebut.

Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang Penerima Risalah dalam kajian Filsafat dan Agama.

2.      Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

 "Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku" (Abu Daud, Kitab Al Fitan wal Malahim Bab Dzikru Al Fitan wa Dalailuha, Juz. 11, Hal. 322, No hadits. 3710. At Tirmidzi, Kitab Al Fitan ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a Laa Taqumus Sa’ah hatta Yakruju Kadzdzabun, Juz. 8, Hal. 156, No hadits. 2145. Status Hasan Shahih. Syaikh al Abany mengatakan: Shahih. Lihat Misykah al Mashabih, Juz. 3 hal. 173, No. 5406)

Pemahaman yang dapat diambil dari hadis di atas bahwa akan banyak muncul orang-orang pendusta termasuk nabi-nabi palsu baik yang muncul dari kalangan Islam itu sendiri maupun dari luar Islam tetapi nabi Muhammad SAW mayakinkan ummat Islam bahwa semuanya itu adalah tidak benar atau pendusta sebab beliau adalah nabi terakhir.

Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Sebab-sebab munculnya nabi-nabi Palsu, Pemikiran dan Teori ketuhanan dalam pandangan Filsafat dan Agama.

3.      Rasulullah SAW menjelaskan:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

"Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitabul Anbiya`, Bab Ma Dzukira ‘an Bani Isra`il, no. 3268; Muslim Kitabul Imarah Bab Wujubul Wafa` bi Bai’atil Khulafa` Al-Awwal fal Awwal).

Pemahaman terhadap hadis dapat diterangkan bahwa nabi-nabi pembawa risalah sebelum Muhammad satu sama lain saling berkaitan atau saling bergantian memberi peringatan kepada ummat bani Israil termasuk nabi Muhammad penerus nabi sebelum beliau yaitu Isa sehingga setelah sampai kepada Muhammad SAW tugas kenabian itu bukan hanya kepada kaum bani Israil saja tetapi juga kepada seluruh alam semesta,

Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Konsep Ketuhahan para nabi Sebelum Muhammad, Bani Israil dalam Kajian Filsafat dan Agama, Sejarah bani Israil dari masa kemasa.  

4.      Rasulullah SAW menegaskan:

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

"Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib, Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 336, No hadits. 3270).

Pemahaman yang dapat kita ambil dari hadis ini bahwa nabi-nabi terdahulu sebelum Muhammad SAW telah menerima risalah dari Allah guna menata ummat manusia dengan baik menurut kemampuan mereka sehingga manusia tersinari cahaya keimanan kepada Allah SWT, tetapi tidak semuanya mampu untuk diberi petunjuk sehingga Muhammad SAW datang untuk memberi penerangan kepada manusia yang belum menerima petunjuk tersebut atau menjadi penyempurna dari pada ajaran-ajaran sesudah nabi-nabi terdahulu bukan hanya untuk orang-orang tertentu tetapi kepada rahmat sekalian alam, Muhammad SAW bukan hanya diutus untuk ummat islam saja tetapi kepada seluruh Makhluk.

Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang Penerima Risalah dalam kajian Filsafat dan Agama.

5.      Rasulullah SAW menyatakan:

فُضِّلْتُ عَلىَ الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ؛ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْـخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

"Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna, Aku diberi kemenangan karena musuh gentar menghadapiku, Harta rampasan perang dihalalkan bagiku, Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka., Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suci-NYA bagi seluruh dunia. Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Shahih, Muslim Kitabul Masajid wa Mawadhi’ Ash-Shalah).

Pemahaman terhadap hadis ini bahwa ajaran Islam yang disampaikan kepada Muhammad SAW adalah ajaran penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya, dan lebih mudah untuk diikuti sebab ketika ingin beribadah dapat dilakukan dimana saja selama ia suci sehingga Islam lebih sempurna dari ajaran lain. Muhammad lebih di antar para nabi oleh sebab itulah menjadi penyempurna ajaran-ajaran nabi lain sehingga Ia menjadi akhir para Nabi.

Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang Perbandingan Konsep ajaran Para Nabi dan Rasul, Islam dan Ajaran Sebelum Islam dalan kajian Filsafat dan Agama, Muhammad untuk seluruh alam dalam kajian Agama dan Filsafat.

 

 

6.      Rasulullah SAW menegaskan:

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ

            "Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku". (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik). HR. At-Tirmidzi 4/533 no. 2272, beliau berkata: “Hasan Shahih,” Kitab Ar-Ru`ya, Bab Dzahabatin Nubuwwah wa Baqiyat Al-Mubasyirat; Ahmad 3/267, Al-Hakim 4/433, beliau mengatakan: “Sanadnya shahih menurut syarat Muslim.”).

            Pemahaman kita bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai pewaris para nabi dan rasul, tidak ada yang mewarisi kenabian Muhammad sepeninggal beliau sebab kenabian dan kerasulan itu hanya sampai kepada beliau dan pada masa bilaulah Rantai kenabian dan Kerasulan itu berakhir.

            Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang kajian Rasul dan Nabi dalam kajian Filsafat dan Agama.

7.      Rasulullah SAW menjelaskan:

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

"Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal. Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu". (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal, Bukhari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat An Nubuwah fil Islam, Juz. 11, Hal. 441, No hadits. 3340. Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta yamurru ar rajul biqabri ar rajul, Juz. 14, hal. 142. No hadits. 5205),

Pemahaman dari teks hadis di atas bahwa akan datang Dajjal suatu saat yang berasal dari kalangan ummat Islam sendiri sehingga ummat islam diperingatkan untuk berhati-hati terhadap Dajjal.

Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Dajjal menurut Pandangan Filsafat dan Agama.

8.      Rasulullah SAW berkata kepada 'Ali:

 لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

            "Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku".(Bukhari dan Muslim, Kitab Fada'il as-Sahaba). At Tirmidzi, Kitab Al Manaqib ‘an Rasulillah Bab Al Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Juz. 12, Hal. 192, No hadits. 3663. Katanya: hasan gharib. Tetapi pada hadits yang sama bunyinya no. 3664 dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash, Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah, Kitab Al Muqaddimah Bab Fadhlu ‘Ali bin Abi Thalib, Juz. 1, Hal. 134, No hadits. 118, dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash)

            Pemahamannya bahwa tidak ada Nabi setelah Muhammad, Ali sangat dekat dengan Nabi tapi Ali tidak mewarisi kenabian Muhammad SAW sebab kenabian berakhir pada masa Muhammad SAW.

            Rekomendasi hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Kedekatan Ali dengan Muhammad SAW.

9.      Rasulullah SAW berkata:

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

"Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat". Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa'i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).

Pemahamannya bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad melainkan orang yang memiliki Visi yang baik dan suci, merubah manusia secara duniawi kepada kebajikan dan secara ukhrawi tentunya untuk beribadah kepada Allah SWT.

10.  Rasulullah SAW menjelaskan: "Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada'il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta', Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

11.  Khutbah terakhir Rasulullah: "Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat"

12.  Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut'im RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya"

13.  Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: "Saya mendengar Abdullah bin 'Amr ibn-'As menceritakan bahwa Suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: "Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf", dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: "Tidak ada lagi Nabi sesudahku". (Musnad Ahmad, Marwiyat Abdullah bin 'Amr ibn-'As).

14.  Rasulullah SAW berkata: "Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun". (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani).

BAB III

PENUTUP

 

Nabi adalah seorang yang kekuatan kognitifnya mencapai akal aktif, yakni malaikat Jibril, Hakikat akal aktif itu sesungguhnya adalah batasan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Pendeknya, seorang Nabi adalah orang yang mampu berkomunikasi bukan saja dengan Tuhan tetapi juga kepada manusia. Sebab, bagi Ibnu Sina, tugas kenabian sesungguhnya juga memerankan fungsi politik, dalam arti mampu menuntun manusia untuk mengetahui hukum baik-buruk dan memberikan teladan kepada mereka untuk melaksanakannya.

Muhammad SAW adalah nabi sekaligus rasul terakhir. Maka sebagai bagian dari prinsip keimanan, tak ada tawar-menawar dalam perkara ini. Tidak ada pula kemungkinan bagi datangnya “kebenaran baru”, sebagaimana diistilahkan para pembela ajaran nabi palsu

Penelusuran terhadap hadis-hadis tentang Wacana kenabian setelah Muhammad SAW secara umum memberikan keterangan bahwa tentang kenabian setelah Nabi Muhammad SAW tidak akan terjadi meskipun beliau mengatakan bahwa beliau dengan Ali bagaikan Harun dan Musa, akan muncul berbagai macam pendusta baik itu dari kalangan Islam dan di luar Islam.

Sedangkan perumusan tema bagi pembelajaran Agama dan filsafat dapat direkomendasikan tentang Penerima Risalah dalam kajian Filsafat dan Agama, Sebab-sebab munculnya nabi-nabi Palsu, Pemikiran dan Teori ketuhanan dalam pandangan Filsafat dan Agama, Konsep Ketuhahan para nabi Sebelum Muhammad, Bani Israil dalam Kajian Filsafat dan Agama, Sejarah bani Israil dari masa kemasa, Perbandingan Konsep ajaran Para Nabi dan Rasul, Islam dan Ajaran Sebelum Islam dalan kajian Filsafat dan Agama, Rasul dan Nabi dalam kajian Filsafat dan Agama, Dajjal menurut Pandangan Filsafat dan Agama.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Quranul Karim, Mushaf Sahmal Nour, Jakarta: Pustaka Mubin, 2013

 

Abdullah. Taufiq (ed), ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT.

Ichtiar Van Houve, 2000

 

At Tirmidzi, Kitab Al Manaqib ‘an Rasulillah Bab Al Manaqib ‘Ali bin Abi

Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Juz. 12.

 

Maktabah Syamilah

 

Ibnu Mansur, lisanul Arabiy, Tahun 1995

 

David A kerr, prophetood dalam John L. Esposito (ed). Oxpord

Encyclopedia of the Modern Islamic World, New York: oxpord university press, 1995.

           

Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi

 

Bukhari, Kitab-ul-Fada'il, Bab Asmaun-Nabi;

 

………., Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat An Nubuwah fil Islam, Juz. 1

 

………, Kitab Fada'il as-Sahaba

 

Ibnu Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Dâru Shâdr, Beirut, Jld. 1

 

Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal.

 

Muatta', Kitab-u-Asma-in-Nabi;

 

Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta

yamurru ar rajul biqabri ar rajul, Juz. 14,

 

Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Al-quran Surah Surah ke (33) Al Ahzab: 40.

[2] Penelusuran melalui maktabah syamilah

[3] Lihat lisanul Arabiy, oleh ibnu Mansur, tahun 1995, h. 162

[4] Lihat, kerr. David A., prophetood dalam John L. Esposito (ed). Oxpord Encyclopedia of the Modern Islamic World, New York: oxpord university press, 1995

[5] Abdullah. Taufiq (ed), ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Van Houve, 2000

[6] Ibnu Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Dâru Shâdr, Beirut, Jld. 1, Hal. 254

Tidak ada komentar:

Posting Komentar