BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu keyakinan dalam ajaran agama Islam yang tidak
dapat diganggu gugat adalah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah kepada
seluruh bangsa di dunia, Muhammad SAW adalah penutup seluruh para nabi dan
rasul, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah ia, sebagaimana firman Allah SWT
dalam alquran sebagai berikut:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ
رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah
bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan
penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.[1]
Dalam kajian ini akan ditelaah hadis tentang kenabian
setelah Muhammad SAW yang dilakukan dengan pendekatan hadis tematik di mana
akan dihimpun hadis-hadis yang berkaitan dengan kenabian setelah Muhammad SAW
yang selanjutnya akan dilakukan penelusuran hadis hadis tersebut sehingga akan
diketahui dan dipahami dalil-dalil tentang kenabian setelah Muhammad SAW dalam
kajian Hadis sebagai sumber hukum Islam kedua.
Signifikansi pembahasan
ini adalah untuk memahami kenabian setalah Muhammad SAW yang bersumber dari
hadis guna untuk disampaikan ketengah-tengah masyarakat yang di rujuk secara sitematis
dan terperinci sehingga dapat dirumuskan pembahasan ini berupa pengertian Nabi,
maupun hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan tentang kenabian setelah
Muhammad serta yang paling terpenting adalah penelusuran hadis tentang kenabian
setelah Muhammad SAW yang dilakukan
dengan menenlusuri Takhrij hadis, Kritik sanad dan matan, Asbabul Wurud,
pemahaman Terhadap Teks hadis dan perumusan konsep tentang pemunculan tema
tertentu dalam bidang agama dan filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Nabi
Kata nabi terulang
dalamAl-Qur'an sebanyak 76 kali[2]berasal
dari bahasa arab naba’ yang berarti
warta (al-khabar),[3] berita
(tidings), informasi (information), laporan (report). Dalam bentuk transitif (anba’a‘an) ia berarti memberi informasi
(to inform), meramal (to predict), to foretell (menceritakan masa depan). Bentuk jamak dari istilah
ini adalah nabiyyun dan anbiya’, sedangkan nubuwwah adalah bentuk al-masdar
(kata benda, noun) dari na-ba-‘a yang berarti kenabian (prophecy, ramalan atau prophethood,
kenabian), sifat (hal) nabi, yang berkenaan dengan nabi.[4]
Dalam bahasa Inggris,
nabi biasa disebut dengan prophet
yang berarti seseorang yang mengajarkan agama dan mengklaim, mendapatkan
inspirasi dari Tuhan dan prophetes
sebutan untuk nabi perempuan, sedang dalam bahasa Yunani prophetes berarti
orang yang mengkomunikasikan wahyu Tuhan. “kata Prophetes diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew menjadi kata nabi.
Secara etimologis, kata ini berarti “memanggil”,
“berbicara keras”. Ada juga yang
secara langsung mengartikan sebagai “orang
yang dipanggil Tuhan untuk berbicara atas nama-Nya”.[5]
Ada pendapat yang
menyatakan bahwa Wujud fisik ini tidak mungkin ada tanpa Nabi, sedangkan Ibnu
Sina, misalnya, mensinyalir adanya tiga kelompok manusia di dunia ini. Pertama, orang yang tidak punya
kecakapan teoritis dan praktis. Kedua,
orang yang punya kecakapan teoritis dan praktis hanya pada dirinya sendiri dan
tidak mampu menyempurnakan orang lain. Ketiga,
adalah orang yang punya kecakapan teoritis dan praktis sekaligus, serta mampu
mentransformasikannya kepada orang lain. Inilah sesungguhnya yang disebut
sebagai Nabi.
Pendapat pertama dan
kedua menyatakan bahwa nabi adalah seorang yang kekuatan kognitifnya mencapai
akal aktif, yakni malaikat Jibril, Hakikat akal aktif itu sesungguhnya adalah
batasan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Pendeknya, seorang Nabi
adalah orang yang mampu berkomunikasi bukan saja dengan Tuhan tetapi juga
kepada manusia. Sebab, bagi Ibnu Sina, tugas kenabian sesungguhnya juga
memerankan fungsi politik, dalam arti mampu menuntun manusia untuk mengetahui
hukum baik-buruk dan memberikan teladan kepada mereka untuk melaksanakannya.[6]
B.
Kenabian Setelah Muhammad SAW
Telah menjadi keyakinan yang asasi dalam Islam, bahwa
Muhammad SAW adalah nabi sekaligus rasul terakhir. Maka sebagai bagian dari
prinsip keimanan, tak ada tawar-menawar dalam perkara ini. Tidak ada pula
kemungkinan bagi datangnya “kebenaran baru”, sebagaimana diistilahkan para
pembela ajaran nabi palsu.
Merupakan aqidah yang paten, keyakinan yang kokoh melebihi
kekokohan gunung-gunung yang tinggi menjulang, bahwa kenabian dan kerasulan
telah ditutup dengan kenabian dan kerasulan Nabi kita Muhammad SAW, sehingga
dialah Nabi dan Rasul terakhir. Keyakinan demikian merupakan penegasan dari atas
tujuh langit, dari Allah sebagai tuhan semesta alam.Ibnu Katsir mengatakan:
“Ini merupakan nikmat Allah yang
terbesar atas umat ini, di mana Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama
mereka. Sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain agama mereka. Tidak
butuh pula kepada nabi selain Nabi mereka. Oleh karenanya, Allah menjadikannya
sebagai penutup para Nabi serta Allah utus dia kepada manusia dan jin..
Demikian disebutkan oleh para mufassir baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah maupun selainnya
seperti ditegaskan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, Al-Qurthubi,
Al-Baghawi, Ibnu Katsir, Abu Hayyan, Al-Khazin, An-Nasafi, Fakhruddin Ar-Razi,
Az-Zamakhsyari, dan kalangan ahli tafsir selain mereka rahimahumullah. Tidak
ada yang menyelisihi mereka kecuali orang-orang belakangan, dan yang tidak
memahami bahasa Arab yang dengan bahasa ini Allah turunkan Al-Qur`an.
C. Hadis-Hadis Tentang Wacana Kenabian
Setelah Muhammad SAW
1.
Nabi
Muhammad SAW bersabda:
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِابْنِ مَرْيَمَ،
الْأَنْبِيَاءُ أَوْلادُ عَلَّاتٍ وَلَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ. قَالَ:
فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ n: مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ قَصْرٍ أُحْسِنَ
بُنْيَانُهُ وَتُرِكَ مِنْهُ مَوْضِعُ لَبِنَةٍ فَطَافَ بِهِ نُظَّارٌ
فَتَعَجَّبُوا مِنْ حُسْنِ بُنْيَانِهِ إِِلاَّ مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ لاَ
يَعِيبُونَ غَيْرَهَا فَكُنْتُ أَنَا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ خُتِمَ بِيَ
الرُّسُلُ
"Perumpamaan saya dan para Nabi
sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan
dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu
sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta'juk lalu berkata:
"kenapa kamu tidak taruh batu ini.?" Nabi menjawab: Sayalah batu itu
dan saya penutup Nabi-nabi" (Ibnu Hibban, bab
Dzikru Tamtsilil Mushthafa ma’al Anbiya` bil Qashril Mabni, 14/361) Dalam
lafadz Al-Bukhari dan Muslim (وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ) “Dan aku adalah penutup para Nabi,
HR. Al-Bukhari, Kitabul Manaqib, Bab Khataminnabiyyin,
Muslim, Kitabul Fadha`il, Bab Dzikru
Kaunihi Khatamannabiyyin)
Pemahaman
yang dapat kita ambil dari hadis ini bahwa nabi-nabi terdahulu sebelum Muhammad
SAW telah menerima risalah dari Allah guna menata ummat manusia menurut
kemampuan mereka sehingga manusia tersinari cahaya keimanan kepada Allah SWT,
tetapi tidak semuanya mampu untuk diberi petunjuk sehingga Muhammad SAW datang
untuk memberi penerangan kepada manusia yang belum menerima petunjuk tersebut.
Rekomendasi
hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang Penerima
Risalah dalam kajian Filsafat dan Agama.
2. Rasulullah SAW bersabda:
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ
ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا
نَبِيَّ بَعْدِي
"Akan ada pada umatku 30 pendusta
semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi
setelahku" (Abu Daud, Kitab
Al Fitan wal Malahim Bab Dzikru Al Fitan wa Dalailuha, Juz. 11, Hal. 322,
No hadits. 3710. At Tirmidzi, Kitab Al Fitan ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a Laa
Taqumus Sa’ah hatta Yakruju Kadzdzabun, Juz. 8, Hal. 156, No hadits. 2145.
Status Hasan Shahih. Syaikh al
Abany mengatakan: Shahih. Lihat
Misykah al Mashabih, Juz. 3 hal. 173, No. 5406)
Pemahaman
yang dapat diambil dari hadis di atas bahwa akan banyak muncul orang-orang
pendusta termasuk nabi-nabi palsu baik yang muncul dari kalangan Islam itu
sendiri maupun dari luar Islam tetapi nabi Muhammad SAW mayakinkan ummat Islam
bahwa semuanya itu adalah tidak benar atau pendusta sebab beliau adalah nabi
terakhir.
Rekomendasi
hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Sebab-sebab
munculnya nabi-nabi Palsu, Pemikiran dan Teori ketuhanan dalam pandangan
Filsafat dan Agama.
3.
Rasulullah
SAW menjelaskan:
كَانَتْ بَنُو
إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ
نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
"Suku Israel dipimpim oleh
Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya.
Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan
menjadi penerusku
(Bukhari, Kitabul Anbiya`, Bab Ma Dzukira
‘an Bani Isra`il, no. 3268; Muslim Kitabul Imarah Bab Wujubul Wafa` bi Bai’atil Khulafa` Al-Awwal fal Awwal).
Pemahaman
terhadap hadis dapat diterangkan bahwa nabi-nabi pembawa risalah sebelum
Muhammad satu sama lain saling berkaitan atau saling bergantian memberi
peringatan kepada ummat bani Israil termasuk nabi Muhammad penerus nabi sebelum
beliau yaitu Isa sehingga setelah sampai kepada Muhammad SAW tugas kenabian itu
bukan hanya kepada kaum bani Israil saja tetapi juga kepada seluruh alam
semesta,
Rekomendasi
hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Konsep Ketuhahan
para nabi Sebelum Muhammad, Bani Israil dalam Kajian Filsafat dan Agama,
Sejarah bani Israil dari masa kemasa.
4.
Rasulullah
SAW menegaskan:
إِنَّ
مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا
فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ
النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ
اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ
"Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang
sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan
sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia
menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang.
Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya,
tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut?
Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran
Nabi-nabi". (Bukhari,
Kitab-ul-Manaqib, Imam Ibnu Hajar,
Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 336,
No hadits. 3270).
Pemahaman
yang dapat kita ambil dari hadis ini bahwa nabi-nabi terdahulu sebelum Muhammad
SAW telah menerima risalah dari Allah guna menata ummat manusia dengan baik
menurut kemampuan mereka sehingga manusia tersinari cahaya keimanan kepada
Allah SWT, tetapi tidak semuanya mampu untuk diberi petunjuk sehingga Muhammad
SAW datang untuk memberi penerangan kepada manusia yang belum menerima petunjuk
tersebut atau menjadi penyempurna dari pada ajaran-ajaran sesudah nabi-nabi
terdahulu bukan hanya untuk orang-orang tertentu tetapi kepada rahmat sekalian
alam, Muhammad SAW bukan hanya diutus untuk ummat islam saja tetapi kepada
seluruh Makhluk.
Rekomendasi
hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang Penerima
Risalah dalam kajian Filsafat dan Agama.
5.
Rasulullah
SAW menyatakan:
فُضِّلْتُ
عَلىَ الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ؛ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ
بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا
وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْـخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ
النَّبِيُّونَ
"Allah telah memberkati aku
dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: Aku
dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna, Aku diberi kemenangan
karena musuh gentar menghadapiku, Harta rampasan perang dihalalkan bagiku, Seluruh
bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci
bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu
tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan
jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah
(Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka., Aku
diutus Allah untuk menyampaikan pesan suci-NYA bagi seluruh dunia. Dan jajaran
Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Shahih, Muslim Kitabul Masajid wa Mawadhi’ Ash-Shalah).
Pemahaman
terhadap hadis ini bahwa ajaran Islam yang disampaikan kepada Muhammad SAW
adalah ajaran penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya, dan lebih mudah untuk
diikuti sebab ketika ingin beribadah dapat dilakukan dimana saja selama ia suci
sehingga Islam lebih sempurna dari ajaran lain. Muhammad lebih di antar para
nabi oleh sebab itulah menjadi penyempurna ajaran-ajaran nabi lain sehingga Ia
menjadi akhir para Nabi.
Rekomendasi
hadis ini terhadap tema Filasafat da agama adalah tema tentang Perbandingan
Konsep ajaran Para Nabi dan Rasul, Islam dan Ajaran Sebelum Islam dalan kajian
Filsafat dan Agama, Muhammad untuk seluruh alam dalam kajian Agama dan
Filsafat.
6.
Rasulullah
SAW menegaskan:
إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ
قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ
"Rantai
Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul
dan nabi sesudahku". (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya,
Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik). HR.
At-Tirmidzi 4/533 no. 2272, beliau berkata: “Hasan Shahih,” Kitab Ar-Ru`ya, Bab Dzahabatin Nubuwwah wa
Baqiyat Al-Mubasyirat; Ahmad 3/267, Al-Hakim 4/433, beliau mengatakan:
“Sanadnya shahih menurut syarat Muslim.”).
Pemahaman
kita bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai pewaris para nabi dan rasul, tidak ada
yang mewarisi kenabian Muhammad sepeninggal beliau sebab kenabian dan kerasulan
itu hanya sampai kepada beliau dan pada masa bilaulah Rantai kenabian dan
Kerasulan itu berakhir.
Rekomendasi hadis ini terhadap tema
Filasafat da agama adalah tema tentang kajian Rasul dan Nabi dalam kajian
Filsafat dan Agama.
7.
Rasulullah
SAW menjelaskan:
وَلَا
تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ
ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
"Allah yang Maha Kuasa tidak
mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya
tentang kemunculan Dajjal.
Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang
beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara
kamu". (Ibnu Majah, Kitabul
Fitan, Bab Dajjal, Bukhari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat An Nubuwah
fil Islam, Juz. 11, Hal. 441, No hadits. 3340. Muslim, Kitab Al
Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta yamurru ar rajul biqabri
ar rajul …, Juz. 14, hal.
142. No hadits. 5205),
Pemahaman
dari teks hadis di atas bahwa akan datang Dajjal suatu saat yang berasal dari
kalangan ummat Islam sendiri sehingga ummat islam diperingatkan untuk
berhati-hati terhadap Dajjal.
Rekomendasi
hadis ini terhadap tema Filasafat dan agama adalah tema tentang Dajjal menurut
Pandangan Filsafat dan Agama.
8.
Rasulullah
SAW berkata kepada 'Ali:
لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ
مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
"Hubunganmu denganku ialah
seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang
sesudahku".(Bukhari dan Muslim, Kitab Fada'il as-Sahaba). At Tirmidzi, Kitab Al Manaqib ‘an
Rasulillah Bab Al Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Juz. 12,
Hal. 192, No hadits. 3663. Katanya: hasan gharib. Tetapi pada hadits
yang sama bunyinya no. 3664 dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash, Imam At
Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah, Kitab Al Muqaddimah
Bab Fadhlu ‘Ali bin Abi Thalib, Juz. 1, Hal. 134, No hadits. 118, dari
jalur Sa’ad bin Abi Waqash)
Pemahamannya
bahwa tidak ada Nabi setelah Muhammad, Ali sangat dekat dengan Nabi tapi Ali
tidak mewarisi kenabian Muhammad SAW sebab kenabian berakhir pada masa Muhammad
SAW.
Rekomendasi hadis ini terhadap tema
Filasafat dan agama adalah tema tentang Kedekatan Ali dengan Muhammad SAW.
9. Rasulullah SAW berkata:
لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا
الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ
"Allah
tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat". Dikatakan,
apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau
visi yang suci.
(Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa'i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak
ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi,
jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk
mimpi yang suci).
Pemahamannya bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad melainkan orang yang
memiliki Visi yang baik dan suci, merubah manusia secara duniawi kepada
kebajikan dan secara ukhrawi tentunya untuk beribadah kepada Allah SWT.
10.
Rasulullah
SAW menjelaskan: "Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan
kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul
pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah
satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam
arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada'il, Bab Asmaun-Nabi;
Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;
Muatta', Kitab-u-Asma-in-Nabi;
Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh,
Bab Asma-un-Nabi).
11.
Khutbah
terakhir Rasulullah: "Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang
akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu,
wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan
kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku;
dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat"
12.
Imam
Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut'im RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya
saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana
Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia
berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya"
13.
Abdur
Rahman bin Jubair melaporkan: "Saya mendengar Abdullah bin 'Amr ibn-'As
menceritakan bahwa Suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung
dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau akan
meninggalkan kita. Beliau berkata: "Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta
huruf", dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan:
"Tidak ada lagi Nabi sesudahku". (Musnad Ahmad, Marwiyat Abdullah
bin 'Amr ibn-'As).
14.
Rasulullah
SAW berkata: "Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan karena itu,
tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun". (Baihaqi,
Kitab-ul-Rouya; Tabrani).
PENUTUP
Nabi
adalah seorang yang kekuatan kognitifnya mencapai akal aktif, yakni malaikat
Jibril, Hakikat akal aktif itu sesungguhnya adalah batasan antara dimensi
ketuhanan dan kemanusiaan. Pendeknya, seorang Nabi adalah orang yang mampu
berkomunikasi bukan saja dengan Tuhan tetapi juga kepada manusia. Sebab, bagi
Ibnu Sina, tugas kenabian sesungguhnya juga memerankan fungsi politik, dalam
arti mampu menuntun manusia untuk mengetahui hukum baik-buruk dan memberikan
teladan kepada mereka untuk melaksanakannya.
Muhammad SAW adalah nabi sekaligus
rasul terakhir. Maka sebagai bagian dari prinsip keimanan, tak ada
tawar-menawar dalam perkara ini. Tidak ada pula kemungkinan bagi datangnya
“kebenaran baru”, sebagaimana diistilahkan para pembela ajaran nabi palsu
Penelusuran
terhadap hadis-hadis tentang Wacana kenabian setelah Muhammad SAW secara umum memberikan
keterangan bahwa tentang kenabian setelah Nabi Muhammad SAW tidak akan terjadi
meskipun beliau mengatakan bahwa beliau dengan Ali bagaikan Harun dan Musa,
akan muncul berbagai macam pendusta baik itu dari kalangan Islam dan di luar
Islam.
Sedangkan perumusan
tema bagi pembelajaran Agama dan filsafat dapat direkomendasikan tentang Penerima
Risalah dalam kajian Filsafat dan Agama, Sebab-sebab
munculnya nabi-nabi Palsu, Pemikiran dan Teori ketuhanan dalam pandangan
Filsafat dan Agama, Konsep Ketuhahan para nabi
Sebelum Muhammad, Bani Israil dalam Kajian Filsafat dan Agama, Sejarah bani
Israil dari masa kemasa, Perbandingan Konsep ajaran Para Nabi dan Rasul,
Islam dan Ajaran Sebelum Islam dalan kajian Filsafat dan Agama, Rasul dan Nabi
dalam kajian Filsafat dan Agama, Dajjal menurut Pandangan Filsafat dan Agama.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Quranul
Karim, Mushaf Sahmal Nour, Jakarta:
Pustaka Mubin, 2013
Abdullah. Taufiq (ed), ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT.
Ichtiar Van
Houve, 2000
At Tirmidzi, Kitab Al Manaqib ‘an Rasulillah Bab Al Manaqib ‘Ali bin
Abi
Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Juz. 12.
Maktabah Syamilah
Ibnu Mansur, lisanul Arabiy, Tahun 1995
David A kerr, prophetood dalam John L. Esposito (ed).
Oxpord
Encyclopedia of
the Modern Islamic World, New York: oxpord university press, 1995.
Al-Mustadrak
Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi
Bukhari, Kitab-ul-Fada'il, Bab Asmaun-Nabi;
………., Kitab Al Manaqib Bab
‘Alamat An Nubuwah fil Islam, Juz. 1
………, Kitab
Fada'il as-Sahaba
Ibnu Arabi, Futuhat
al-Makkiyyah, Dâru Shâdr, Beirut, Jld. 1
Ibnu Majah,
Kitabul Fitan, Bab Dajjal.
Muatta', Kitab-u-Asma-in-Nabi;
Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta
yamurru ar rajul biqabri ar rajul …, Juz. 14,
Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;
[1] Al-quran Surah Surah ke (33) Al Ahzab: 40.
[2] Penelusuran melalui maktabah
syamilah
[3] Lihat lisanul Arabiy, oleh ibnu Mansur, tahun 1995, h. 162
[4] Lihat, kerr. David A., prophetood dalam John L. Esposito (ed). Oxpord Encyclopedia of the Modern Islamic World, New York: oxpord university press, 1995
[5] Abdullah. Taufiq (ed), ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Van Houve, 2000
[6] Ibnu Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Dâru Shâdr, Beirut, Jld. 1, Hal. 254
Tidak ada komentar:
Posting Komentar