Minggu, 22 November 2020

PENGERTIAN DAN KETENTUAN UMUM TENTANG IBADAH UMRAH DAN HAJI

 

PENGERTIAN DAN KETENTUAN UMUM TENTANG

IBADAH  UMRAH DAN HAJI

 

A.    Pengertian Umum Tentang Ibadah Umrah dan Haji

1.      Umrah ialah berkunjung ke Baitullah, untuk melakukan thawaf, sa’i, dan bercukur demi mengharap ridha Allah.

2.      Haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan antara lain : wukuf, thawaf, sa’i, dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharap ridha-Nya.

3.      Istitha’ah artinya mampu, yaitu mampu melaksanakan ibadah haji/umrah ditinjau dari segi :

a.       Jasmani      : sehat dan kuat agar tidak sulit melakukan ibadah haji/umrah.

b.      Rohani       :

1).    Mengetahui dan memahami manasik haji/umrah

2).    Berakal sehat dan memiliki kesiapan mental untuk melakukan ibadah haji/umrah dengan perjalanan jauh.

c.       Ekonomi

1).    Mampu membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH)

2).    BPIH bukan berasal dari penjualan satu-satunya sumber kehidupan yang apabila dijual menyebabkan kemudaratan bagi dirinya dan keluarganya.

3).    Memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan.

d.      Keamanan

1).    Aman dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji/umrah

2).    Aman bagi keluarga dan harta benda serta tugas  dan tanggung jawab yang ditinggalkan dan tidak terhalang/mendapat izin untuk perjalanan haji,

4.      Rukun Haji  ialah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan Dam, jika ditinggalkan maka tidak sah hajinya.

5.      Wajib haji ialah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus membayar dam,  berdosa kalau sengaja meninggalkan dengan tidak ada uzur syar’i.

6.      Miqat Zamani ialah batas waktu haji. Menurut jumhur (sebagian besar) ulama miqat zamani mulai tanggal 1 Syawal sampai terbit fajar tanggal 19 Zulhijjah.

7.      Miqat Makani ialah batas tempat untuk mulai ihram haji atau umrah

8.      Ihram ialah niat memulai mengerjakan ibadah haji/umrah

9.      Thawaf ialah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali, dimana ka’bah selalu berada di sebelah kirinya dimulai dan diakhiri  pada arah sejajar dari Hajar Aswad

10.  Sa’i ialah berjalan dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah atau sebaliknya masing-masing dihitung 1 (satu) kali.

11.  Wukuf  ialah keberadaan diri seseorang di Arafah walaupun sejenak dalam waktu antara tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijjah (Hari Arafah) sampai terbit fajar hari Nahar tanggal 10 Zulhijjah.

12.  Mabit ialah bermalam/istirahat. Mabit terbagi dua

a.       Mabit di Muzdalifah tanggal 10 Zulhijjah ialah bermalam di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah. Ketentuan mabit di Muzdalifah adalah keberadaan jama’ah dianggap sah  walaupun sesaat setelah lewat tengah malam.

b.      Mabit di Mina ia;ah bermalam di Mina dimalam hari tanggal 11, 12, 13 Zulhijjah dalam rangka melaksanakan amalan haji.

c.       Hukum mabit di Mina dinyatakan sah apabila jamaah berada di Mina lebih dari separo malam.

13.  Lontar Jamrah ialah melontar dengan batu kerikil yang mengenai marma (jamrah Ula, Wustha, Aqobah) dan batu kerikil masuk kedalam lubang marma pada hari nahar dan hari tasyrik.

14.  Tahallul ialah keadaan seseorang yang telah dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang. Tahallul ada (2) dua macam :

a.       Tahallul Awal ialah keadaan seseorang yang telah melakukan dua diantara tiga perbuatan yaitu : melontar jamrah Aqabah dan bercukur, atau melontar jamrah Aqabah dan Thawaf ifadah serta sa’i atau Thawaf ifadah dan sa’i dan bercukur. Sesudah Tahallul Awal seseorang boleh berganti pakaian  biasa dan memakai wangi-wangian, dan boleh mengerjakan semua yang dilarang selama ihram, akan tetapi masih dilarang besetubuh dengan isteri/suami.

b.      Tahallul Tsani ialah keadaan seseorang  yang telah melakukan ketiga perbuatan yaitu melontar jamrah Aqobah, bercukur, dan Thawaf ifadah serta sa’i. Bagi yang sudah melakukan sa’i setelah Thawaf qudum (haji Ifrad dan Qiran) tidak perlu melakukan sa’i setelah Thawaf ifadah. Sesudah tahallul tsani  seorang jamaah boleh bersetubuh dengan suami/isteri.

15.  Dam menurut bahasa  artinya darah, sedangkan menurut istilah adalah mengalirkan darah (menyembelih ternak yaitu kambing, unta atau sapi di tanah haram dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji).

a.       Dam Nusuk (sesuai ketentuan ibadah) adalah dam yang dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji Tamattu’ atau Qiran (bilan karena melakukan kesalahan)

b.      Dam Isa’ah adalah dam yang dikenakan bagi orang yang melanggar aturan/melakukan kesalahan yaitu :

1).    Melanggar aturan ihram haji atau umrah

2).    Meninggalkan salah satu wajib haji atau umrah yang terdiri dari :

a).    Tidak berihram/niat dari Miqat

b).    Tidak mabit di Muzdalifah

c).    Tidak mabit di Mina

d).   Tidak melontar jumrah

e).    Tidak Thawaf wada’

16.  Nafar menurut bahasa artinya rombongan. Sedangkan menurut istilah adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada hari tasyrik. Nafar terbagi dua bagian :

a.       Nafar  Awal adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina lebih awal, paling lambat sebelum terbenam matahari yaitu tanggal 12 Zulhijjah setelah melontar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah.

b.      Nafar Tsani adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Zulhijjah setelah melontar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah.

17.  Hari Tarwiyah yaitu hari tanggal 08 Zulhijjah. Dinamakan  hari Tarwiyyah (perbekalan) karena jamaah haji pada zaman Rasulullah mulai mengisi perbekalan air di Mina pada hari itu untuk perjalanan ke Arafah.

18.  Hari Arafah yaitu hari tanggal 9 Zulhijjah dinamakan hari Arafah kerena semua jamaah haji harus berada di Padang Arafah untuk wukuf.

19.  Hari Nahar yaitu hari tanggal 10 Zulhijjah dinamakan hari Nahar (penyembelihan) karena pada hari itu dilaksanakan penyembelihan qurban dan atau  dam

20.  Hari Tasyrik yaitu hari tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Pada hari-hari itu jama’ah berada di Mina untuk melontar dan mabit.

B.     Ketentuan Ibadah Umrah dan Haji

1.      Ibadah umrah

a.       Hukum Ibadah Umrah

Ibadah umrah ialah ibadah yang dilakukan dengan berihram dari miqat, kemudian Thawaf, sa’i dan diakhiri dengan memotong rambut/bercukur dilasanakan dengan tertib.

Ibadah umrah digolongkan sebagai ibadah wajib atau sunnat.

1).    Umrah Wajib

a).    Umrah baru pertama kali dilaksanakan disebut juga umratul Islam

b).    Umrah yang dilaksanakan karena Nazar.

2).    Umrah Sunat ialah umrah yang dilaksanakan untuk yang kedua kali dan seterusnya dan bukan karena nazar.

b.      Waktu mengerjakan Umrah

Umrah dapat dilaksanakan kapan saja, kecuali pada  waktu-waktu yang dimakruhkan (hari Arafah,Nahar, dan Tasyrik).

c.       Syarat, Rukun dan Wajib Umrah

1).    Syarat Umrah

a).    Islam

b).    Baligh (dewasa)

c).    Aqil (berakal sehat)

d).   Merdeka (bukan budak)

e).    Istitha’ah (mampu)

Bila tidak terpenuhi syarat ini, maka gugurlah kewajiban umrah seseorang

2).    Rukun Umrah

a).    Niat Ihram

b).    Thawaf Umrah

c).    Sa’i

d).   Cukur

e).    Tertib (malaksanakan ketentuan manasik sesuai aturan yang ada)

Rukun umrah tidak dapat ditinggalkan bila tidak terpenuhi maka umrahnya tidak sah.

3).    Wajib Umrah

Berihram dari miqat

Wajib Umrah ini adalah ketentuan yang bilamana dilanggar maka ibadah umrahnya sah tetapi harus bayar dam.

2.      Ibadah Haji

a.       Hukum Ibadah Haji

Hukum ibadah haji diwajibkan oleh Allah SWT. kepada kaum muslimin yang telah mencukupi syarat-syaratnya. Menunaikan ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup. Selanjutnya yang kedua kali dan seterusnya hukumnya sunat. Barang siapa yang bernazar haji wajib melaksanakannya.

b.      Syarat, Rukun dan Wajib  Haji:

1).    Syarat Haji adalah :

a).    Islam

b).    Baligh (Dewasa)

c).    Aqil (berakal sehat)

d).   Merdeka (bukan budak)

e).    Istitha’ah (mampu)

2).    Rukun Haji

a).    Ihram (niat)

b).    Wukuf  di Arafah

c).    Thawaf ifadah

d).   Sa’i

e).    Cukur

f).     Tertib

Rukun haji tidak dapat di tinggalkan apabila tidak dipenuhi, maka hajinya batal.

3).    Wajib Haji

a).    Ihram, yakni niat berhaji dari Miqat

b).    Mabit di Muzdalifah

c).    Mabit di mina

d).   Melontar jamrah Ula, Wustha dan Aqobah

e).    Thawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah

Wajib haji ini adalah ketentuan yang apabila dilanggar maka hajinya tetap sah, tetapi wajib membayar dam.

c.       Waktu Ihram Haji

Menurut sebagian besar ulama ketentuan waktu memulai berihram haji yaitu dari tanggal 1 Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah. Barang siapa yang tidak berihram haji pada saat-saat tersebut, maka tidak mendapat haji.

d.      Berihram dari Miqat

Tempat berihram haji/umrah di miqat yang telah ditentukan, dan boleh juga dilakukan sebelum sampai miqat.

Miqat ihram jamaah haji Indonesia gelombang I (satu) adalah Zulhulaifah (Bir Ali) sedangkan bagi jamaah haji gelombang II adalah :

1).    Pada garis sejajar dengan Qanul Manazil, tetapi kesulitannya adalah sebagai berikut :

a).    Sulit memakai ihram di pesawat

b).    Sulit mengambil air untuk berwudhu

c).    Sulit menentukan miqat Qanul Manazil

2).    Di KAAIA Jeddah, sesuai dengan keputusan Komisi Fatwa MUI tanggal 28 Maret 1980 yang dikukuhkan kembali tanggal 19 September 1981 tentang Miqat Haji dan Umrah.

3).    Di asrama Haji Embarkasi Tanah Air, tetapi kesulitannya adalah

a).    Menjaga larangan Ihram

b).    Waktu penerbangan sangat lama 10-11 jam

c).    Keadaan di pesawat sangat dingin.

Atas dasar kesulitan tersebut di atas, maka sebaiknya berihram dengan mengambil miqat di KAAIA Jeddah.

Apabila  melewati miqat yang telah ditentukan dan tidak ihram, maka dia wajib membayar dam yaitu memotong seekor kambing atau mengambil cara lain sebagai berikut : kembali lagi ke miqat haji terdekat yang dilewati tadi sebelum melakukan salah satu kegiatan ibadah haji atau umrah.

Contoh : jamaah haji yang datang dari Madinah seharusnya memulai ihram dengan miqat Zulhulaifah (Bir Ali), apabila ia melewatinya tanpa berihram maka dibolehkan mengambil miqat dari Juhfah (Rabigh).

e.       Pakaian Ihram

1).    Bagi pria, memakai dua helai kain yang tidak berjahit (sebagai mana pakaian biasa) satu diselendangkan (disandang) di bahu dan satu disarungkan. Pada waktu melaksanakan Thawaf  kain ihram dikenakan dengan cara idtiba’ (                      ) yaitu dengan membuka bahu sebelah kanan dengan membiarkan bahu sebelah kiri tertutup kain ihram, disunatkan yang berwarna putih. Tidak boleh memakai baju,  celana (pakaian biasa) sepatu tertutup tumitnya dan tutup kepala yang melekat (menempel di kepala).

2).    Bagi wanita  memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan kedua tangan dari pergelangan sampai ujung jari (kaffain).

f.       Larangan selama ihram

1).    Bagi pria dilarang :

a).    Memakai pakaian biasa

b).    Memakai sepatu yang menutup tumit

c).    Menutup kepala yang melekat seperti topi, kecuali apabila sangat dingin sekali atau ada luka yang harus diperban menutupi sebagian kepala atau seluruhnya.

2).    Bagi perempuan dilarang:

a).    Berkaos tangan

b).    Menutup muka (memakai cadar atau masker)

3).    Bagi Pria dan Wanita dilarang :

a).    Memakai wangi-wangian kecuali yang sudah dipakai dibadan sebelum niat ihram

b).    Memotong kuku atau mencukur atau mencabut rambut badan

c).    Memburu binatang buruan darat yang liar dan boleh dimakan

d).   Membunuh dan menganiaya binatang buruan darat dengan cara apapun (kecuali binatang yang membahayakan boleh dibunuh)

e).    Nikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi/dinikahkan

f).     Bercumbu atau bersetubuh

g).    Mencaci maki, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor.

g.      Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah termasuk salah satu rukun haji yang paling utama. Jamaah haji yang tidak melaksanakan wukuf di Arafah berarti tidak mengerjakan haji.

Nabi Muhammad SAW. bersabda :

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ اَدْرَكَ لَيْلَةَ جَمِيْعٍ فَقَدْ اَدْرَكَ الْحَجَّ .رواه مسلم

Artinya :

Haji itu hadir di Arafah, barang siapa yang datang pada malam hari jama’ (10 Zulhijjah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia masih mendapatkan haji.

Wukuf dilakukan setelah khutbah dan sholat jama’ qasar taqdim Zuhur dan Ashar berjamaah. Wukuf dapat dilaksanakan dengan berjamaah atau sendiri-sendiri dengan memperbanyak zikir, istigfar, dan do’a sesuai dengan sunah Rasul.

Untuk wukuf jamaah haji tidak disyaratkan suci dari hadas besar atau kecil. Karena itu wanita yang sedang haid atau nifas boleh melakukan wukuf . sedangkan bagi jamaah haji yang sakit, pelaksanaannya dilakukan dengan khusus sesuai denga kondisi kesehatannya.

h.      Mabit di Muzdalifah

Menurut sebagian besar ulama mabit di Muzdalifah hukumnya wajib. Sebagian ulama yang lain menyatakan sunat.

Bagi yang tiba di Muzdalifah sebelum tengah malam harus menuggu sampai lewat tengah malam. Pada saat mabit hendaknya bertalbiyah. Berzikir, beristigfar, berdo’a atau membaca Alqur’an  selanjutnya mencari kerikil kecil sebanyak  7 (tujuh) , atau 49 (emapat puluh Sembilan) atau 70 (tujuh puluh) butir.  Krikil dapat diambil dari mana saja, namun di sunatkan dari Muzdalifah   jamaah haji yang tidak melakukan mabit di Muzdalifah diwajibkan membayar Dam  dengan urutan sebagai berikut :

Menyembelih seekor kambing, atau kalau tidak mampu berpuasa 10 (sepuluh) hari yaitu 3 (tiga) hari semasa haji di tanah suci dan 7 (tujuh) hari dilakukan di tanah air. (Alqur’an/ 2 :  196 ) apabila tidak mampu melaksanakan puasa 3 hari semasa haji maka harus melaksanakan puasa 10 (sepuluh) hari ditanah air  tanah air dengan niat qadha. Pelaksanaanya dipisahkan antara antara  yang 3 (tiga) hari dengan yag 7 (tuuh) tujuh hari selama 4 (empat) hari.

Bagi jamaah haji yang tidak mabit karena udzur syar’i , seperti sakit, mengurus orang sakit, tersesat jalan dan lain sebagainya. Tidak di wajibkan membayar Dam

i.        Mabit di Mina

1).    Hukum mabit di Mina menurut  Jumhur adalah wajib.

2).    Waktu dan tempat mabit

Waktu mabit yaitu malam tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Tempat Mabit bagi sebagian besar jamaah haji Indonesia adalah di Harratul Lisan. Harratul Lisan adalah termasuk wilayah hukum mabit di Mina.

Kemungkinan pengembangan wilayah seperti ini sama halnya dengan pengembangan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sejak tahun 1984 pemerintah Arab Saudi telah menetapkan Harratul Lisan sebagai tempat mabit dan kemudian makin meluas sesuai dengan kondisi perhajian sehingga mulai tahun 2001 sebagian jamaah haji mendapat perkemahan yang masuk dalam batas daerah Muzdalifah.

Hukum mabit perluasan Mina ditempat tersebut sah dan dapat diterima sebagai daerah perluasan hukum  untuk mabit di Mina karena darurat dan kemahnya bersambung, sesuai dengan keputusan hasil muzakarah ulama tentang Mabit di luar kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.

j.        Melontar Jamrah

1).    Hukum melontar jamrah adalah wajib, apabila tidak dilaksanakan maka dikenakan Dam/Fidyah.

2).    Tata cara melontar jamrah

a).    Kerikil mengena marma (masuk lobang)

b).    Melontar dengan kerikil satu persatu. Melontar dengan 7 (tujuh) kerikil sekaligus, tetap dihitung satu kali lontaran.

c).    Melontar jamarat dengan urutan yang benar yaitu mulai dengan jumrah ula, wusta dan terakhir aqobah.

d).   Yang dipakai untuk melontar adalah batu kerikil, selain itu tidak sah seperti sandal, payung dan lain sebagainya.

3).    Waktu melontar

a).    Pada tanggal 10 Zulhijjah yang dilontar adalah jumrah Aqobah saja. Waktu afdolnya setelah terbit matahari nahr. Untuk menjaga keselamatan bagi jamaah agar menghindari waktu afdaliyah, karena waktu tersebut cukup beresiko/berbahaya dan usahakan melontar sesuai waktu yang telah ditetapkan dan dengan berombongan. Waktu ikhtiar (memilih)  ba’da Zuhur sampai terbenam matahari dan waktu jawaz (diperbolehkan) adalah mulai lewat tengah malam 10 Zulhijjah  sampai dengan terbit fajar tanggal 11 Zulhijjah.

b).    Pada hari Tasyrik (11, 12 dan 13 Zulhijjah)  melontar ketiga jamarat : Ula, Wusta dan Aqobah. Waktunya sebagai berikut :

(1). Waktu afdalnya (utama) ba’da zawal (setelah tergelicir matahari) namun dianjurkan menghindari melontar pada waktu afdal demi keselamatan jamaah.

(2). Waktu ikhtiar (memilih) sore sampai malam hari.

(3). Waktu jawaz (diperbolehkan) yaitu selain waktu afdal dan ikhtiar dimulai dari terbit fajar hari bersangkutan. Bagi yang nafar awal melontar tanggal 11 dan 12 Zulhijjah. Sedangkan yang Nafar Tsani melontar tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah.

(4). Melontar jmarah yang aman bagi jamaah Asia tenggara termasuk Indonesia sesuai keputusan Kementerian Arab Saudi sebagai berikut :

(a).  Melontar jamrah Aqobah tanggal 10 Zulhijjah sebaik-baiknya dilakukan lewat tengah malam sampai dengan pukul 05.00 pagi, atau pukul 18.00 sampai dengan pukul 24.00. Hindari memilih waktu melontar pukul 05.00 s.d. 12 pagi, karena sangat padat dan beresiko tinggi.

(b). Melontar jamrah ula, wusta dan aqobah pada hari Tasyrik tanggal 12 Zulhijjah, sebaiknya dilakukan dengan cara memilih  waktu antara pukul 06.30 s.d. pukul. 24.00. Hindari melontar pada pukul 11.00 – 16.00 Wib

(c).  Melontar jamrah Ula, Wusta dan Aqobah pada hari Tasyrik tanggal 12 Zulhijjah, sebaiknya dilakukan dengan cara memilih waktu antara pukul 06.00 sampai dengan pukul 10.00 (bagi jamaah haji yang mengambil Nafar Awal. Atau dilakukan pada sore hari antara pukul 17.00 sampai dengan 24.00 malam (bagi yang tidak nafar awal) Hindari melontar antara pukul 10.00 s.d. 16.00.

(d). Melontar jumrah Ula, Wusta, dan Aqobah tanggal 13 Zulhijjah, sebaiknya dilakukan antara pukul 06.00 pagi s.d. 12.00 siang, atau pukul 14.30 s.d. 17.00 sore bagi yang jamaah haji yang mengambil nafar sani, hindari melontar jumrah pada pukul 12.00 s.d. 14.30 siang.

Melontar dapat dilakukan kapan saja, selama masih dalam hari-hari tasyrik. Hal Ini dimaksudkan demi  untuk keamanan dan kenyamanan bagi jamaah haji.

k.      Thawaf

1).    Syarat Sahnya Thawaf

a).    Menutup aurat

b).    Suci dari hadas

c).    Dimulai dari arah Hajar Aswad

d).   Menjadikan  Baitullah (Ka’bah) disebelah kiri

e).    Dilaksanakan tujuh kali putaran

f).     Berada di dalam Masjidil Haram

g).    Tidak ada tujuan selain Thawaf

h).    Niat Thawaf, yaitu dikala mengerjakan Thawaf sunnah. Adapun Thawaf Rukun

2).    Thawaf ada empat macam yaitu : Thawaf rukun, Thawaf qudum, Thawaf wada’ dan Thawaf sunat.

a).    Thawaf rukun terbagi 2  yaitu

(1).    Thawaf rukun haji disebut pula Thawaf ifadah atau Thawaf ziarah

(2).    Thawaf  rukun umrah

b).    Thawaf  qudum

Thawaf quum merupakan penghormatan kepada Baitullah. Thawaf qudum tidak termasuk rukun atau wajib haji. Waktu melakukan Thawaf qudum pada hari pertama kedatangan ke Makkah. Hukum melakukan Thawaf qudum adalah sunat bagi jamaah haji yang melakukan haji Ifrad dan Qiran. Jamaah haji yang melakukan haji Tamattu’ tidak disunatkan Thawaf qudum, karena Thawaf qudumnya sudah termasuk di dalam Thawaf umrah.

c).    Thawaf Sunat

Thawaf sunat adalah Thawaf yang dapat dikerjakan pada setiap kesempatan dan tidak diikuti dengan sa’i.

d).   Thawaf wada’

Thawaf wada’ merupakan penghormatan akhir kepada Baitullah. Waktu melaksanakan Thawaf wada’ ialah setelah ada ketentuan dari petugas untuk meninggalkan Makkah.

Hukum Thawaf wada’ adalah wajib bagi jamaah yang akan meninggalkan Makkah. Bagi jamaah haji yang tidak mengerjakan Thawaf wada’ diwajibkan membayar dam (menyembelih kambing). Bagi wanita yang sedang haid/nifas dan sakit tidak diwajibkan Thawaf wada’. Penghormatannya kepada Baitullah cukup dengan memandangnya  dari pintu Masjidil Haram. Orang yang hendak berangkat keluar dari Makkah, belum boleh meninggalkan Makkah sebelum melakukan Thawaf  wada’ lebih dahulu.

Apabila keberangkatannya tidak dapat ditunda atau karena ada alasan lain yang bisa diterima syara’ maka sebagian ulama membolehkan meninggalkan Makkah tanpa Thawaf wada’-nya sudah masuk dalam Thawaf  ifadahnya atau Thawaf sunat lainnya yang dilaksanakan setelah Thawaf ifadah.

l.        Syarat sahnya Sa’i

1).    Didahului dengan Thawaf

2).    Tertib

3).    Menyempurnakan tujuh kali perjalanan diantara bukit Safa dan Marwah.

4).    Dilaksanakan di tempat sa’i

Sa’i antara bukit Safa dan Marwah termasuk salah satu dari beberapa rukun haji/umrah. Sedang menurut ulama Hanafiah termasuk wajib haji dan tidak ada sa’i sunat

Waktu mengerjakan sa’i setelah melaksanakan Thawaf ifadah/umrah. Menurut kebanyakan ulama tidak disyaratkan suci pada waktu pengerjaan sa’i.

m.    Mencukur/menggunting rambut (Tahallul)

Mencukur/menggunting rambut paling sedikit 3 (tiga) helai rambut adalah salah satu amalan ibadah dalam manasik haji dan umrah. Beberapa pendapat ulama tentang hukum mencukur/menggunting rambut adalah sebagai berikut :

1).    Sebagian besar ulama menyatakan bahwa amalan tersebut wajib haji, sehingga apabila ditinggalkan wajib membayar Dam.

2).    Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa amalan tersebut termasuk rukun haji. Sehingga apabila ditinggalkan hajinya tidak sah.

Pelaksanaan mencukur/memotong rambut adalah sebagai berikut :

a).    Dalam ibadah haji pelaksanaannya pada hari nahar sesudah melontar jamrah Aqobah. Bagi yang mendahulukan Thawaf ifadah daripada melontar jumrah Aqobah, maka boleh setelah Thawaf ifadah dan sa’i atau boleh diundur sampai hari-hari tasyrik.

b).    Dalam ibadah umrah mencukur/memotong dilaksanakan pada waktu selesai sa’i.

n.      Dam/Fidyah

Ketentuan dam/fidyah bagi yang melanggar ihram adalah sebagai berikut :

1).    Apabila melanggar larangan ihram berupa mencukur rambut, memotong kuku, atau memakai pakaian yang bertangkup bagi laki-laki menutup muka (cadar/masker) atau memakai sarung tangan bagi wanita dan wangi-wangian bagi laki-laki/wanita wajib membayar fidiyah dengan jalan memilih diantara menyembelih seekor kambing, bersedekah kepada 6 (enam) orang miskin dan setiap orang setengah sha’ (2=mud ± 1,5 kilogram beras/makanan yang mengeyangkan atau berpuasa 3 (tiga) hari.

2).    Apabila melanggar larangan ihram berupa membunuh hewan buruan darat yang halal dimakan, maka wajib membayar fidiyah atau bersedekah dengan makanan seharga hewan tersebut. Apabila tidak mampu boleh diganti dengan puasa. Bilangan puasanya disesuaikan menurut banyaknya makanan yang harus disediakan, yaitu satu hari puasa sama dengan satu mud makanan (±3/4 kilogram)

3).    Apabila suami isteri melanggar larangan ihram dengan bersetubuh sebeum tahallul awal, maka batal hajinya dengan wajib membayar dam kifarat menyembelih seekor unta atau sapi 7 (tujuh) ekor kambing.

4).    Apabila suami isteri melanggar larangan dengan bersetubuh setelah tahallul awal, maka tidak batal hajinya tetapi wajib membayar dam yaitu menyembelih seekor kambing.

5).    Apabila mengadakan akad nikah di waktu ihram, maka pernikahannya itu batal. Tetapi yang bersangkutan tidak membayar dam dan ihramnya tidak batal.

6).    Apabila melakukan rafas, fusuk dan jidal ibadah hajinya sah akan tetapi gugur pahala hajinya dan tidak kena dam/fidyah.

o.      Badal Haji

Menghajikan orang lain hukumnya boleh dengan ketentuan bahwa orang yang menjadi wakil harus sudah melakukan haji wajib bagi dirinya, dan yang diwakili (dihajikan) telah mampu untuk pergi haji tetapi tidak dapat melaksanakan sendiri karena sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya/uzur yang menghilangkan istitha’ahnya (kemampuannya) atau meninggal dunia setelah berniat haji. Orang laki-laki atau perempuan, demikian pula sebaliknya. Diutamakan orang yang mengerjakan itu adalah keluarganya.

C.     Haji Wanita

1.      Kewajiban Haji

Kewajiban haji tidak hanya bagi kaum pria tetapi  juga bagi kaum wanita, sebagaimana perintah Allah dalam surat Ali Imram ayat 97 dan sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah dari ‘Aisyah yang menyatakan bahwa haji dan umrah adalah jihad bagi wanita.

Karena itu ibadah haji wajib bagi kaum wanita Islam yang merdeka (bukan budak) berakal sehat, dewasa dan mampu dan memenuhi syarat-syarat tertentu  seperti harus ada mahram, yaitu suami atau laki-laki yang dilarang  menikahinya.

Pendapat lain membolehkan wanita pergi haji sendiri atau dengan wanita yang dipercaya jika perjalanannya aman dari segala macam gangguan.

2.      Ketentuan Khusus Bagi Wanita

Ketentuan dalam ibadah haji pria dan wanita sama saja, kecuali beberapa hal dibawah ini :

a.       Menutup aurat seluruh tubuh dengan busana muslim kecuali muka/wajah dan pergelangan tangan sampai ujung jari boleh ditutup dan boleh dibuka yang dilarang menutup dangan kaos tangan.

b.      Tidak mengeraskan suara ketika berdo’a dan mengucapkan talbiyah.

c.       Tidak lari-lari kecil pada waktu Thawaf dan sa’i

d.      Tidak  di sunatkan mengecup Hajar Aswad tetapi cukup isyarat dengan mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad kemudian mengecup tangannya.

e.       Tidak mencukur rambutnya ketika tahallul tetapi cukup memotong ujung rambutnya  saja minimal 3 (tiga) helai.

3.      Rukun Haji bagi wanita Haid dan Nifas

Semua rukun haji boleh dilakukan wanita dalam keadaan hadats besar (haid/Nifas) atau hadats kecil kecuali Thawaf, karena Thawaf disyaratkan harus suci  dari hadats besar dan kecil. Apabila terjadi haid setelah Thawaf padahal belum sa’I, maka sa’inya boleh diteruskan.

4.      Ihram bagi Wanita Haid atau Nifas

Bagi wanita yang melaksanakan haji Tamattu’ pada waktu ihram umrah terhalang oleh haid atau nifas (baik sebelum niat atau sesudah niat umrah), maka setelah sampai di Makkah harus menunda pelaksanaan umrahnya sampai suci.

a.       Apabila telah suci sebelum berangkat ke Arafah dan cukup waktunya untuk menyelesaikan umrahnya, maka ia harus menyelesaikan umrahnya yaitu Thawaf, sa’i, dan memotong ujung rambutnya paling sedikit 3 (tiga) helai.

b.      Apabila sampai dengan kesempatan terakhir menjelang keberangkatan ke Arafah dia masih haid atau nifas, maka dia harus melaksanakan haji Qiran (merubah niat) yaitu berniat ihram haji dan umrah bersamaan. Selanjutnya dalam keadaan haid atau nifas itu berangkat ke Arafah untuk mengerjakan wukuf. Sewaktu wukuf  boleh membaca zikir/do’a-do’a wukuf dan seharusnya  boleh  melakukan wajib haji  seperti mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jamrah dan memotong rambut.

5.      Thawaf ifadah bagi wanita Haid/Nifas

Thawaf ifadah merupakan salah satu rukun haji , oleh sebab itu tidak boleh ditinggalkan atau diwakilkan. Mengingat hal tersebut mengandung resiko yang berat, ada jalan keluar yang dapat dilakukan :

a.       Apabila waktu berangkat ke Jeddah atau Madinah masih cukup lama, hendaknya ia menanti datangnya suci, setelah suci segeralah mandi dan Thawaf ifadah.

b.      Waktu haid atau nifas ada batas maksimal dan minimalnya. Untuk haid minimal sehari samalam maksimalnya 15 (lima belas) hari. Untuk nifas minimal sebentar/sesaat, sedang lamanya bisa 1 (satu) minggu, 2 (dua) minggu, 40 (empat puluh) hari dan maksimal 60 (enam puluh) hari. Dengan mengambil batas minimal maka pada saat terasa darah haid atau nifas berhenti, hendaknya ia cepat cepat  mandi hadats besar dan melakukan Thawaf ifadah. Apabila selama melakukan Thawaf  ifadah hingga selesai darah haid atau nifas tidak keluar, maka sah Thawaf ifadahnya walaupun sesudah Thawaf selesai darah keluar lagi.

c.       Dalam melaksanakan Thawaf ifadah bagi wanita haid atau nifas, agama Islam (syara’) membenarkan menggunakan obat untuk menghentikan darah haid atau nifas.

d.      Menurut mazhab Hanafi, dibolehkan Thawaf dalam keadaan haid tetapi harus membayar dam unta atau sapi 7 (tujuh) ekor kambing.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar