ETOS
KERJA DALAM ALQURAN
Diajukan
Sebagai Salah Tugas berstruktur pada Mata kuliah Tafsir Hadist Tematik pada
Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan
Diasuh
oleh:
Dr.
ACHYAR ZEIN, M.Ag
Disusun
oleh:
MUHAMMAD
ABDULLAH AMIN HASIBUAN
Program
Doktor
EKONOMI
SYARIAH

PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUMATERA
UTARA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah tentang "Etos Kerja dalam al-quran" ini. Sholawat dan
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran
agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam
semesta.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas
pada mata kuliah Tafsir Hadist Tematik pada Program Doktor Ekonomi Syariah Pascasarjana
UIN Sumatera Utara. Disamping itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada Bapak Dr. Achyar Zein, M.Ag selaku Dosen pembimbing yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan
makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kritik membangun dan saran-saran dari semua
pihak serta perbaikan akan kami lakukan demi kesempurnaan makalah ini.
Medan, September 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
Hal
Kata Pengantar ................................................................................................ i
Daftar Isi................. ..............................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
A.
Latar
Belakang............................................................................................. 1
BAB II Etos
Kerja dalam alquran
A. Pengertian Etos Kerja....................................................................................... 3
B. Perintah Bekerja dalam Alquran..................................................................... 6
B.1. Kata ‘Amal............................................................................................... 6
B.2 Kata San’u................................................................................................ 8
B.3. Kata Fi’il.................................................................................................. 11
B.4. Kata Kasb................................................................................................. 12
C. Motivasi alquran dalam Bekerja....................................................................... 17
D. Penghargaan alquran dalam Bekerja................................................................ 20
E.
Celaan alquran bagi Yang Pemalas................................................................. 27
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan................................................................................................... 31
B.Saran Saran................................................................................................... 31
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................... 33
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam ajaran Islam, kekuataan iman
semata-mata belum akan memberikan arti penting bagi kehidupan, tanpa diikuti oleh
aktivitas dan amal perbuatan atau kerja. Sebaliknya aktivitas dan amal
perbuatan yang tidak dilandasi oleh iman akan bernilai hampa dalam pandangan Islam
karena di dalamnya tidak ada motivasi pengabdian.
Islam memandang kerja sebagai kodrat
hidup manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Kerja juga merupakan jalan
utama mendekatkan diri kepada Allah sehingga dapat dijadikan pedoman yang mendasar.
Bekerja adalah fitrah, sekaligus identitas manusia yang didasarkan pada
prinsip-prinsip iman (tauhid) bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim
melainkan juga meninggikan derajat.
Berdasarkan Q.S.
Al-An’am ayat 132 sebagai berikut :
وَلِكُلٍّ
دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ
بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Dan
masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang
dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan[1].
Kemudian berdasarkan Q.S. Al-Mulk ayat 2 sebagai berikut:
الَّذِي خَلَقَ
الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ
الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.[2]
Kedua ayat di atas pada intinya memberikan pemahaman bahwa Allah menjadikan harga diri
seseorang manusia berbanding lurus dengan instrument amaliahnya di dunia.
Bekerja
merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan bekerja seorang muslim dapat
mengekspresikan dirinya sebagai manusia, makhluk ciptaan tuhan yang paling
sempurna di dunia. Setiap pekerjaan yang dilakukan karena Allah sama halnya
dengan melakukan Jihādf ῑ Sabῑlillah.
Tujuan diakukan
penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana Alquran dan al-hadis memandang
konsep kerja dan bagaimana cara seorang muslim berperilaku dalam kaitannya
dengan pekerjaan. Tulisan ini terdiri atas beberapa bagian, dimulai dengan
pendahuluan yang membahas mengenai latar belakang, tujuan dan sistematika
penulisan. Kemudian memaparkan pengertian etos kerja dalam alquran.
Selanjutnya Mengenai
perintah bekerja dalam alquran, Motivasi alquran dalam bekerja, penghargaan
alquran dalan bekerja dan celaan alquran bagi orang yang pemalas.
Penulisan yang digunakan dan Pembahasan
mengenai etos kerja dalam perspektif Alquran dan hadis melalui pendekatan
tafsir tematik dan selanjutnya akan ditarik sebuah Kesimpulan sebagai Penutup.
BAB II
ETOS KERJA DALAM ALQURAN
A. Pengertian
Etos Kerja
Secara etimologis, kata etos berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos
yang berarti: sikap, kepribadian,
watak, karakter, serta
keyakinan atas sesuatu.[3]
Menurut John M
Echols dan Hassan
Shadily ethos adalah “jiwa khas suatu bangsa”. di mana
sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan
masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai
kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang meyakininya. Dari kata etos
ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pengertian akhlak
atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik-buruk (moral). [4]
Hal ini
berarti, etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan
hidup yang baik dan
segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain
atau dari satu generasi ke generasi yang lain. Kebiasaan ini lalu terungkap
dalam perilaku berpola yang terus berulang sebagai sebuah
kebiasaan.[5]
Menurut H. Toto
Tasmara, etos adalah sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi
terhadap nilai kerja. Dari kata etos, maka lahirlah apa yang disebut dengan “ethic” yaitu pedoman,
moral dan prilaku atau dikenal pula dengan istilah etiket yang artinya cara bersopan
santun.[6]
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan
sosial dimana etos kerja merupakan semangat kerja yang menjadi ciri khas dan
keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Dari kata etos dikenal kata etika yang
mendekati pegertiannya pada akhlak (nilai yang berkaitan dengan baik buruknya
moral) yaitu ilmu tentang apa yg baik dan buruk; dan tentang hak dan kewajiban
moral (akhlak).[7]
Etika adalah
agama, karena agama memberi pedoman mana yang benar dan mana yang salah dalam
ilmu dan tingkah laku. Dalam Islam hal ini merupakan bagian yang sentral untuk
membentuk keyakinan dan nilai dalam Islam yang harus diketahui, diamalkan dan
didakwahkan kepada orang lain.[8]
Menurut Ewzar,
etos kerja adalah cara kerja yang memiliki tiga dasar yaitu keinginan untuk
menunjukkan mutu pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan dan
kemampuan untuk member pelayanan kepada masyarakat melalui karya professional.[9]
Etos kerja
muslim merupakan cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja bukan
hanya memuliakan dirinya sebagai manusia, tetapi juga sebagai manifestasi dari
amal saleh, dan mempunyai nilai ibadah yang luhur dihadapan Tuhan. Jihād
memerlukan motivasi, dan motivasi memerlukan pandangan hidup yang jelas. Itulah
yang disebut dengan etos. Etos kerja seorang muslim harus selalu dilandasi
Alquran dan Hadis.[10]
Sedangkan secara terminologi kata etos diartikan sebagai suatu aturan umum,
cara hidup, tatanan dari prilaku atau sebagai jalan hidup dan seperangkat
aturan tingkah laku yang berupayauntuk mencapai kualitas yang sesempurna
mungkin.[11]
Sedangkan Kata kerja dalam KBBI artinya adalah kegiatan melakukan sesuatu.[12]
Kerja adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang, baik sendiri atau bersama
orang lain, untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. Sedangkan
menurut Toto Tasmara, kerja adalah suatu upaya yang sungguhsungguh, dengan
mengerahkan seluruh aset, pikir, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau
menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan
menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairulummah).[13]
Makna kerja dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memenuhi
kebutuhannya, baik di dunia maupun akhirat. Bekerja bukanlah sekedar untuk
memperoleh penghasilan, namun bekerja yang lebih hakiki merupakan perintah
Tuhan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Melalui bekerja,
dapat diperoleh beribu pengalaman, dorongan bekerja, bahwa hari ini harus lebih
baik dari kemarin, dituntut kerja keras, kreatif, dan siap menghadapi tantangan
zaman.
Apabila etos dihubungkan dengan kerja, maka maknanya menjadi lebih khas. Etos kerja adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata dengan
arti yang menyatu. Dua makna khas itu adalah semangat kerja, dan keyakinan
seseorang atau kelompok. Selain itu juga sering diartikan sebagai setiap
kegiatan manusia yang dengan sengaja diarahkan pada suatu tujuan tertentu.
Tujuan itu adalah kekayaan manusia sendiri, entah itu jasmani maupun rohani
atau pertahanan terhadap kekayaan yang telah diperoleh.
Menurut Jansen H. Sinamo, etos kerja
professional adalah seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada
kesadaran kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada paradigma kerja integral.[14]
Etos kerja pada mulanya dari paradigma, tetapi kemudian dianggap sebagai sebuah
keyakinan. Sebagai paradigma, nilai-nilai kerja tertentu diterima sebagai nilai
yang baik dan benar oleh seseorang atau kelompok. Artinya, seseorang dapat
diterima atau dihargai dikelompoknya apabila menunjukkan perilaku sesuai norma
yang disepakati bersama. Dengan kata lain, etos kerja dapat juga berupa gerakan penilaian
dan mempunyai gerak evaluatif pada tiap-tiap individu dan kelompok. Dengan
evaluasi tersebut akan tercipta gerak grafik menanjak dan meningkat dalam
waktu-waktu berikutnya. Ia juga bermakna cermin atau bahan pertimbangan yang
dapat dijadikan pegangan bagi seseorang untuk menentukan langkah-langkah yang
akan diambil kemudian. Ringkasnya, etos kerja adalah doublestandar of life
yaitu sebagai daya dorong di satu sisi, dan daya nilai pada setiap individu
atau kelompok pada sisi lain.
B. Perintah
Bekerja dalam al Quran
Dunia kerja
dalam Islam meliputi semua usaha yang bersifat membangun dan menjangkau seluruh
industri dalam bidang perdagangan, pertanian, pelayanan dan jasa serta semua
jenis pekerjaan yang bersifat mengabdi kepada manusia, memerlukan keterampilan
tangan, kecerdasan, pemikiran dan kesusasteraan, bahkan para fuqaha memandang
kepemimpinan dalam kenegaraan dan pemerintahan dapat digolongkan ke dalam
bentuk pekerjaan atau profesi. Dalam menjalankan aktivitas tersebut agar tetap
stabil diperukan etos kerja yang baik sesuai Alquran dan Hadis.
Abu Bakar termasuk salah seorang tokoh Islam kalangan sahabat yang mempromosikan
jabatan khilafah (Kepala Negara) sebagai profesi tatkala beliau mengatakan :”Inni
la’a’malu li al-muslimin” (aku akan bekerja demi kepentingan kaum muslimin)
sering pula didengar kata al-‘ummal yang digunakan untuk menyebut para
pemimpin (al-wulāti).[15]Kata
kerja dalam Alquran, diungkap setidaknya melalui empat kata, yaitu: al-‘Amal, aṣ-Ṣan’u, al-Fi’il, al-Kasbu,
dan as-Sa’yun.
B.1. Kata ‘Amal
Ayat tentang kerja di dalam Alquran seluruhnya berjumah 602 kata. Adapun
ayat-ayat dan hadis-hadis di bawah ini hanya merupakan sebagian dari
sekian banyak ayat Alquran dan al-Hadis yang membahas tentang dunia kerja atau
etos kerja, diantaranya adalah:
وَقُلِ
اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ
عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”[16]
Ayat di atas
menggunakan kata amal yang bermakna tindakan praktis. Selanjutnya kata al-Amal
merupakan kata yang paling banyak disebut dalam Alquran.
Ditemukan kata ‘amal (‘amal,
‘āmilu,āmal,ūn,‘ ta‘malya’malūn dan
lainnya) dalamāq Alquran disebut sebanyak 360 kali.[17]
Kata ini bermakna lebih khusus dari fi’il, kata ‘amal jarang sekali dikaitkan
dengan perbuatan hewan, tidak digunakan ‘amal pada hewan kecuali
pada firman Allah mengenai sapi untuk bekerja.[18] Khusus untuk amal manusia disebut 312 ayat.[19]
Perbuatan mencakup perbuatan baik (‘amil as-salihat) dan perbuatan jelek
(amil as-sayyi’at).[20]
Para mufasir menafsirkan ayat di atas dalam konteks ‘amal
dalam arti sempit atau ῑbādah
maḥḍah, namun kita dapat
mengembangkan maknanya menjadi lebih luas. Kata ‘amal
mencakup segala aktivitas manusia yang bertujuan untuk menghasilkan barang atau
jasa. Inilah yang disebut kerja dalam makna yang luas. Kerja bisa baik dan
buruk yang semuanya tidak tersembunyi bagi Allah swt. Orang yang bekerja dengan
baik, profesional dan sempurna maka ia memperoleh keuntungan material juga
spiritual. Kerja itu sesungguhnya upaya kemanusiaan untuk menunjukkan kualitas
dihadapan Allah swt. oleh sebab itu menjadi keniscayaan baginya untuk
menunjukkan kerja yang baik. Kata amal yang bermakna kerja dapat dilihat pada
QS. Al-Kahfi ayat 79, sebagai berikut:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ
يعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ
يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبً
Adapun
bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku
bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja
yang merampas tiap-tiap bahtera.[21]
Allah swt. menceritakan perjalanan Nabi Musa
bersama Nabi Khaidir.[22]
Pada dasarnya surah at-Taubah ayat
105 memerintahkan semua dan setiap orang untuk berusaha, termasuk usaha
ekonomi. Semua dan setiap usaha pasti akan diketahui oleh Allah, dan orang-orang
beriman dalam hal ini menginformasikan arti penting dari penilaian Allah,
penilaian Rasul-Nya, dan penilaian orang-orang mukmin terhadap prestasi (kerja)
seseorang. Semua prestasi itu pada dasarnya akan memperoleh balasan/hasil baik
yang berhubungan dengan prestasi kerja duniawi (bermotif ekonomi) dan yang
berhubungan dengan nilai ukhrawi. Semua dan setiap perbuatan seseorang baik
maupun buruk kelak di akhirat akan diinformasikan dan diperlihatkan secara
transparan apa adanya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak.
B.2. Kata Sun’u
Sebagimana terdapat dalam Al-quran Surah An naml ayat 88.
وَترَى الْجِبَالَ
تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ
ۚ إِنَّهُ
خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu,
kamu sangka Dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.
(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu;
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [23]
Kata ṣun’u (iṣtana’tuka, iṣna’, taṣna’un, ṣun’ā, ṣan’ah,
maṣani’ dan lainnya) dalam Alquran disebut sebanyak 20 kali yang tersebar
pada 14 surah dan 19 ayat.[24]
Aṣ-ṣun’u dalam Alquran
mengandung arti perbuatan yang pelakunya terkadang Allah sendiri dapat kita
lihat dalam QS. Thaha (20):41 sebagai berikut:وَاصْطَنَعْتُكَ
لِنَفْسِي
(dan
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku[25]
dan Q.S. An-Naml (27):88) sebagai berikut: صُنْعَ
اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ
بِمَا تَفْعَلُونَ (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap
sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan[26],
Sedangkan pada bagian lain pelakunya adalah manusia.
Sehubungan dengan manusia sebagai
pelaku adakalanya perbuatan itu baik atau buruk. Konteks perbuatan melahirkan
sesuatu, Alquran menjelaskan daya cipta manusia seperti:
1.
Fir’aun dan kaumnya membuat bangunan
dan istana (QS. Al-A’raf (7):137) sebagai berikut:
وَأَوْرَثنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا
يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ
رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا
مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ
Dan
Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian
timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah
sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil
disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun
dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.[27]
2.
Tipu daya tukang sihir Fir’aun (QS. Thaha (20):69) sebagai Berikut:
وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ
مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يفْلِحُ
السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ
Dan
lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang
mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya
tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja
ia datang".[28]
3.
Nabi Daud membuat baju besi (QS.
Al-Anbiya’ (21):80 sebagai berikut:
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ
لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ
شَاكِرُونَ
Dan
telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara
kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).[29]
4.
Kaum Nabi Hud (‘Ad) membuat benteng
(QS. Asyu’ara (26):129) sebagai berikut:
وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ
لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ
Dan
kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?
5.
Nabi Nuh membuat perahu (QS. Hud
(11):37) sebagai berikut:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا
وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ
مُغْرَقُونَ
Dan
buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah
kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya
mereka itu akan ditenggelamkan.[30]
Kata ṣun’u adalah daya cipta
manusia yang lahir dari keterampilan dan keahian tertentu atau profesi yang
pada gilirannya akan melahirkan profesionaisme. Kata ṣana’ atau ṣun’u
biasanya digunakan untuk perbuatan yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.
Pelakunya biasanya memiliki keterampilan dan kemahiran. Maknanya juga melakukan
dengan sebaik-baiknya, yang dalam pelaksanaannya menuntut al-jaudah yang
bermakna sempurna/ahsan (yang terbaik).[31]
Kata ṣun’u dalam ayat di atas
dihubungkan dengan Allah sebagai pelakunya. Para mufasir memahami ayat
di atas dalam konteks peristiwa hari kiamat yaitu keadaan gunung pada saat
manusia dibangkitkan dari kubur. Ayat ini menurutnya menyatakan : “Dan engkau
wahai Muhammad atau siapapun akan melihat gunung-gunung pada saat kebangkitan
dari kubur, engkau menyangkanya tetap ditempatnya tidak bergerak. Padahal ia
berjalan sampai menjadi bagian kapas yang berterbangan, perjalanannya
sebenarnya sangat cepat, tetapi karena tidak jelas maka ia terlihat bagaikan
jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan sebaik-baiknya
tiap sesuatu; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[32]
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فرَضَ
فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا
مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتقُونِ يَا
أُولِي الْأَلْبَابِ
“(Musim) haji
adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam
bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan
berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan
berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah,
dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai
orang-orang yang berakal”.[33]
Kata berbekalah pada ayat tersebut
maksudnya bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau
meminta-minta selama dalam perjalanan haji. Hal ini berarti bekal dari segi
materi dan utntuk mendapatkan materi diperukan bekerja, yaitu bekerja yang baik
agar dapat memperoleh beka yang baik pula.
Ayat di atas sebelum dan sesudahnya
adalah membahas masalah haji, alquran memerintahkan orang yang meaksanakan haji
untuk melakukan kebaikan. Apa saja kebaikan yang dikerjakan seorang muslim yang
telah mengerjakan haji, pasti Allah akan mengetahui dan mencatatnya dan akan
dibalasannya dengan paha yang berlipat. Agar ibadah haji dapat terlaksana
dengan baik dan sempurna.
B.3. Kata Fi’il
Kata al-fi’il (if’al,ūn,tafūn,yaā’il,afūla’,maf’ltf’al dan lainnya) di dalam Alquran disebut 108
kali, Kata fi’il berarti perbuatan dengan pelaku yang
bermacam-macam. Konsep fi’il bersifat umum sama dengan ‘amala.
Kata fi’il artinya perbuatan atau kegiatan yang mencakup secara umum,
perbuatan baik (al-Khairat) dan al-ma’ruf. Fi’il juga
mengacu pada perbuatan buruk atau negatif, khusus dengan masalah keyakinan.
Kata fā’al berhubungan dengan harta riba, misalnya
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا
بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ
فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
Maka
jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa
Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula)
dianiaya.[34]
Kata taf’alu kendati konteks
ayat adalah haji namun bisa dikembangkan dengan aktifitas lain seperti
berdagang. (QS Al-Baqarah: 198) dimana Allah memperkenankan orang-orang yang
sedang melaksanakan ibadah haji berusaha seperti berdagang dan aktivitas
ekonomi lainnya.[35]
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ
بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ
نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ
نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا
اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah
kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi
orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para
wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada
Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala
sesuatu”.[36]
B.4. Kata Kasb
Kata kasb (iktasaba, iktasabat, iktasabu,kasaba,kasabtum dll)
di dalam Alquran disebut 67 kali di dalam 27 surah dan 60 ayat.[37]
Keutamaan laki-laki atau perempuan dalam ayat tersebut adalah harta
kekayaan yang diperoleh masing-masing melalui hasil kerja keras (al-jiddat
wa al-kasb). Semua itu hanya dapat diperoleh dengan kerja dan usaha (al-kasb
wa al-sa’yu). Kasb dalam Alquran mengandung arti seperti:
1.
Menggambar dapat dilihat
dala alquran Baqarah ayat 79 sebagai berikut:
فوَيْلٌ
لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْترُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فوَيْلٌ لَهُمْ
مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
Maka
kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan
mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud)
untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan
yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri,
dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.[38]
2.
Anak dapat dilihat dalam alquran Surah Al-Lahab
ayat 2 sebagai berikut:
مَا
أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah berfaedah kepadanya harta
bendanya dan apa yang ia usahakan.[39]
3.
Mengumpulkan dapat dilihat
dalam alquran Surah al-Baqarah Ayat 267 sebagai berikut:
يَا أَيهَا الَّذِينَ آمَنُوا
أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ
الْأَرْضِ ۖ وَلَا تيَمَّمُوا
الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا
فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا
أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai
orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi
untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan
daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.[40]
4. Bekerja dapat dilihat dalam alquran Surah Al-Baqarah ayat 134 sebagai
berikut:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ
وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ
عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Itu
adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang
sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang
apa yang telah mereka kerjakan.[41]
Kata Kasb menurut ahli bahasa
mengandung arti menginginkan,
mencari dan memperoleh, dari sini muncul makna mencari rezeki dan mencari apa
saja yang bermanfaat termasuk harta atau sesuatu yang diduga mendatangkan
manfaat (keuntungan dan ternyata mendatangkan mudharat (kerugian). Anak juga disebut kasb karena bapaknya menginginkannya dan
berusaha untuk mendapatkannya. Dan kasb digunakan untuk diri sendiri dan
orang lain. Kata kasb dalam Alquran ada yang dirangkai dalam hal positif
dan adapula yang negatif.[42]
Kata iktasaba digunakan pada apa yang
manusia memperoleh manfaat untuk dirinya. Kasaba lebih luas dari pada
itu karena digunakan untuk kemanfaatan dirinya dan orang lain.[43] Sa’yun
juga berarti berjalan dengan cepat tanpa berlari dan bersungguh-sungguh
menjalankan perintah yang baik atau yang buruk.[44]
Dapat dilihat dala alquran sebagai berikut:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا
سَعَىٰ
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia
tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak
akan diperlihat kepadanya).[45]
Kata sa’yun (sa’a, sa’au, tas’a, yas’a, yas’auna, fas’au dll)
dalam Alquran disebut sebanyak 30 kali yang tersebar padaāq 20 surah dan 26
ayat.[46]
As-sa’yun berarti kasbun dan semua amal dari yang baik
dan yang buruk. As-sa’yun yang menunjukkan amal perbuatan buruk
sebagai berikut:
1.
QS. al-Baqarah: 114 dan 205
a.
Al Qurah Surah al Baqarah ayat 114
sebagai berikut:
وَمَنْ
أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ
فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا
إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي
الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang
menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha
untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid
Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat
kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.[47]
b.
Al Qurah Surah al Baqarah ayat 205
Sebagai berikut:
وَإِذَا
توَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ
وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Dan apabila ia berpaling (dari kamu),
ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak
tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.[48]
2.
Alquran Surah al-Maidah ayat 114
sebagai berikut:
قَالَ
عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ
السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا
وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami
turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya)
akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang
datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah
kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".[49]
Ada yang menunjukkan perbuatan baik seperti
1.
Alquran Surah. al- Isra’ayat 19
وَمَنْ
أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ
سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
Dan barangsiapa yang menghendaki
kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia
adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan
baik.[50]
2.
Alquran al-Anbiya’ayat 94
Ada yang menunjukkan perbuatan yang
mencakup baik dan buruk seperti:
1.
Alquran Surah an-Najm ayat 39-40
وَأَنْ
لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
Dan bahwasanya seorang manusia tiada
memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak
akan diperlihatkan (kepadanya).[51]
2.
Alquran Surah al-Lail ayat 4
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ
Sesungguhnya
usaha kamu memang berbeda-beda.[52]
Kebanyakan perbuatan As-sa’yun
itu pada perbuatan yang terpuji.[53]
As-sa’yun dalam Alquran mengandung
arti seperti:
1.
Berjalan Alquran Suirah al-Jum’ah ayat 9
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ
لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang beriman, apabila
diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat
Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika
kamu mengetahui.[54]
2.
Bekerja seperti alquran Surah Al-Isra’ ayat
19
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ
لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang
yang usahanya dibalasi dengan baik.[55]
3.
Mempercepat
atau bersegera seperti alquran Surah Al-Qasas ayat 20
وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ
يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ
فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ
Dan datanglah
seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai
Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk
membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang memberi nasehat kepadamu".[56]
C. Motivasi
Alquran Dalam Bekerja
Motivasi kerja
dalam Islam adalah untuk mencari nafkah yang merupakan bagian dari ibadah.
Motivasi kerja dalam Islam bukanlah mengejar hidup hedonis, bukan juga
untuk status, apalagi untuk mengejar kekayaan dengan segala cara melainkan
untuk beribadah, sebagaimana tujuan manusia diciptakan.
Allah menciptakan bumi untuk memberi
kemudahan bagi manusia untuk menjadi penghuni sekaligus pengelolanya. Manusia
dipersilakan menelusuri bumi (mencari rizki, bertamasya dll.) tetapi harus
ingat kehidupan dunia hanya sementara dan manusia harus kembali kepada Allah.
Kehidupan dunia diperumpamakan seperti air hujan yang tidak pernah menetap di
sebuah tempat, dan tidak langgeng dalam suatu keadaan, bersifat sementara,
tidak akan lama apalagi abadi. Oleh karena itu waspadalah pada kehidupan dunia.
Amal yang kekal abadi adalah amal saleh. [57]
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ
النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ
السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ
فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
Dan Kami jadikan malam dan siang
sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang
itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui
bilangan tahun-tahun dan perhitungan dan segala sesuatu telah Kami terangkan
dengan jelas.[58]
Di ayat lain:
وَاضْرِبْ
لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ
فَاخْتَلَطَبِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ
اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثوَابًا وَخَيرٌ أَمَلًا
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka
(manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit,
maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian
tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah
Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan
kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.[59]
Allah
SWT juga berfirman sebagai berikut:
هُوَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا
مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ
يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Apakah kamu merasa aman
terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan
bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?.[60]
Sesungguhnya kemauan kerja merupakan hal yang fitrah dalam kejiwaan manusia
yang hukumnya telah diputuskan oleh kebutuhan manusia untuk mewujudkan
keinginan-keinginannya. Islam mempertajam, mempersiapkan dan
mendorong kemauan ini agar tercapai tujuan yang ingin dicapai oleh manusia.
Dapat kita rasakan hal itu ketika Islam menanamkan dalam jiwa manusia bahwa
usaha yang baik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari iman dan bahwa ia
wajib berusaha dan bersungguh-sungguh kearah itu.[61]
Rasulullah saw. pernah mengembalakan
kambing milik penduduk Makkah sebelum menjadi Nabi, dan bekerja memperdagangkan
harta milik Khadijah Ummul Mukminin r.a. para sahabat juga bekerja
sendiri-sendiri, dan kaum muhajirin pun sibuk berjual beli di pasar. Maka
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seorang pun memakan satu makanan yang lebih baik dari apa yang ia
makan dari hasil kerja tangannya, dan sesungguhnya Nabi Daud itu makan dari
hasil kerja tangannya.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥal- Bukharȋ
:1998)
“Abi Sakir dari Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya dari
kakeknya, Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang
telah dilakukannya maka ia mendapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni
Allah.” (Thabrānī,Ahmad, Al-Mu’jam al-Ausath Juz 7 : 1995)
Hadis riwayat Thabrani dipenjelasan kitab Al-Mu’jam al-Ausath Juz 7
dinyatakan dhaif sebagaimana yangdikatakan
oleh al-Haitsamī:pada nsanadnya
banyak yang tidak diketahui dari mereka, dan alberkata al-Hafidd az-Zaid al-‘Arāfī,sanadnya dhaif dan dari keumuman hadis
Akan tetapi hadis ini dapat dijadikan motivasi dalam fadhilatul ‘amal
Adapun mengenai pemberian ujrah (upah) di dalam kitab Ṣāḥȋḥ Bukhari
banyak terdapat hadis Rasul mengenai upah secara khusus ditulis dalam Kitab
Ijarah. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi bekerja selain mengharapkan
pahala dari Allah juga tidak bisa menafikan pegharapan imbalan dalam bentuk
materi.
D. Penghargaan
Alquran Dalan Bekerja
Kerja bukanlah sekedar memenuhi
kebutuhan, tetapi merupakan aktivitas kehidupan yang bernilai religius dan
keagamaan. Doktrin Islam mengajarkan bahwa
nilai dari setiap bentuk kerja tergantung pada niat. Dengan bekerja manusia
dapat melanjutkan kehidupannya dalam menjalankan amanat Tuhan, dan bagaimana
mendirikan kehidupan yang baik. (Salah satu bentuk kerja yang banyak mendapat
pujian dalam Alquran adalah aktivitas yang bergerak dalam bidang ekonomi.[62]
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ
عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ
إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُو
“Dan katakanlah: "Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan
yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan.[63]
Ayat ini menurut Imam Ar-Razi
mengandung seluruh yang dibutuhkan seorang mukmin baik mengenai agama, dunia,
kehidupan, dan akhiratnya. Dari susunan kata dalam ayat tergambar dua hal pertama, di satu sisi tampak nada targhib
(dorongan) bagi orang-orang yang taat, Kedua
di sisi lain nampak nada tarhib (ancaman) bagi orang-orang yang
berbuat maksiat.
Maksudnya, bersungguh-sungguhlah
kamu untuk berbuat sesuatu demi masa depanmu karena segala perbuatanmu akan
mendapatkan haknya di dunia maupun di akhirat. Di dunia perbuatan tersebut akan
disaksikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Jika berupa ketaatan, ia
akan mendapatkan pujian dan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Namun, jika
berupa kemaksiatan ia akan mendapatkan hinaan di dunia dan siksaan yang pedih
di akhirat.[64]
Perbuatan disini ada yang dilakukan
dengan ikhlas dan ada yang dilakukan dengan riya.Allah akan membalas perbuatan
yang baik akan mendapat balasan yang baik dan yang buruk akan mendapat baasan
buruk.[65]
Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al-Manar menerangkan makna ayat
tersebut begini: Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia,
akhirat, diri dan umatmu. Karena yang
akan dinilai adalah pekerjaanmu, bukan alasan yang dicari-cari; pun bukan
pengakuan bahwa Anda telah berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat
pada hakikat tergantung pada perbuatan Anda. Allah mengetahui sekecil apapun
dari perbuatan tersebut, maka Allah menyaksikan apa yang Anda lakukan dari
kebaikan maupun keburukan. Karenanya, Anda harus senantiasa waspada akan
kesaksian Allah, baik itu berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang
terlewatkan. Semuanya tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu Anda harus senantiasa
menyempurnakannya (itqan), ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam
menjalankan ketaatan sekecil apapun.[66]
Menurut
penulis, pada intinya, ayat di atas menegaskan pentingnya beramal. Bahwa, yang
akan menjadi tolok ukur keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat bukan
semata konsep yang ia hafal, melainkan sejauh mana ia mampu mengamalkan teori
yang telah diketahuinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ
رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ
كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ
عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang
di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah
Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang
mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir.[67]
Di ayat
lain allah SWT berfirman:
وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا
يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Adapun orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Maka Allah akan memberikan kepada
mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim.[68]
Kemudian di ayat lain:
۞ إِنَّ رَبَّكَ يعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ
أَدْنَىٰ مِنْ ثلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ
مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ
لَنْ تُحْصُوهُ فتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقرَءُوا
مَا تيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ
سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ
يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ
يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا
مَا تيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تقَدِّمُوا
لِأَنفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
ۚ وَاسْتغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
“…Dan orang-orang yang
berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain
lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al
Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada
Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu
niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling
baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[69]
Islam menganggap kerja sebagai cara
yang paling utama untuk mencari rezeki dan tiang pokok produksi. Sesungguhnya
Allah akan memberikan kepada orang muslim yang bekerja suatu kehidupan yang
baik, dan sesungguhnya Allah akan memberikan balasan kepadanya pahala yang
lebih baik sesuai dengan Firman Allah sebagai berikut:
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ
الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
Dan
hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa
yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik dengan pahala yang lebih baik (surga).[70]
Selanjutnya
dalam surah an-Nisa’ ayat 32 sebagai berikut:
وَلَا تتَمَنوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ
بعْضَكُمْ عَلَىٰ بعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا
ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا
اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمًا
Dan janganlah kamu
iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih
banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian
dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian
dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[71]
Karena bekerja dalam konsep Islam
merupakan kewajiban, dalam kaidah fiqh orang yang menjalankan kewajiban akan
mendapat pahala, sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi
dosa.
Berdasarkan kaidah ushul fiqhnya thalabulāifar halῑdatun ba’dal farῑdah, [72] yaitu mencari yang halal adalah wajib sesudah yang wajib.
Oleh karena itu, bekerja merupakan kewajiban. Sehingga tak heran jika Umar bin
Khatab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari
nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk
di masjid sementara mentari sudah bersinar.
Menurut penulis, Alquran memberikan
pengertian dalam perasaan dan hati nurani orang yang beriman bahwa bumi dengan
keluasannya adalah lapangan kerjanya dan lapangan bergeraknya. Jangan pernah
membatasi kemauannya yang besar dan jangan pula berhenti menggunakan berbagai
kesempatan kecuali yang telah Allah batasi menurut batasan-batasan halal dan
haram. Beberapa sabda Rasul tentang penghargaan terhadap orang yang bekerja:
“Menceritakan kepada kami, Ibn Birqan dari Barid bin al-asam adi Abi
Hurairah berkata, bersabda Rasulullah saw. sesungguhnya Allah tidaklah
memandang kepada bentuk rupa dan hartamu, akan tetapi Dia melihat hati dan
perbuatanmu.” (Muslim, Abi Husain, Ṣāḥȋḥ Muslim, t.t.)
“Menceritakan
kepada kami Amru bin Usman berkata aku mendengangr Musa bin Thalhah bercerita,
sesungguhnya Hakim bin Hizam menceritakannya, Sesungguhnya Rasulullah
bersabada, keutamaan atau sebaik-baik sedekah dari kekayaan yang jelas, dan
tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. (Muslim, Abi Husain, Ṣāḥȋḥ Muslim, t.t.)
“Menceritakan kepada kami Abu Iwanah dari Qatadah dari Anas ibn Malik ra.
berkata, tidaklah seorang muslimpun yang mau bercocok tanam lalu termakan
darinya seekor burung atau hewan lainnya, kecuali ia mendapatkan pahala sedekah
dengannya” (Al-Bukhari,
Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ,1998)
“Dari Ibnu Umar
Nabi Saw Bersabda
: Berikanlah upah
orang upahan sebelum
kering keringatnya”(Muhammad, Abi Abdullah, Sunan Ibnu Majjah,
1992).
Kata ujrah terdapat di dalam
Alquran di antaranya:
a. Alquran surah Al-Qashash ayat 26
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ
أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ
حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ
أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّالِحِينَ
Berkatalah dia
(Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah
seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan
tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari
kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".[73]
b. Al quran surah at-Thalaq ayat 6.
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ
وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِنْ كُنَّ
أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ
لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا
بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ
أُخْرَىٰ
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu
bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka
untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah
ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga
mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka
berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala
sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh
menyusukan (anak itu) untuknya.[74]
c. Alquran surah Yunus ayat 72
فَإِنْ توَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ
أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ
أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِي
Jika
kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari
padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya
aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).[75]
d. Alquran surah Al-Ankabut ayat 58
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ
الْعَامِلِي
Dan orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami
tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik
pembalasan bagi orang-orang yang beramal. [76]
e. Alquran surah Yusuf ayat 57
وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيرٌ
لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يتَّقُونَ
Dan
sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman
dan selalu bertakwa.[77]
Dalam Islam bekerja bukan hanya sekedar
memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga untuk memelihara harga diri dan
menjunjung martabat kemanusiaan. Maka bekerja dalam Islam menempati posisi yang
mulia.
Islam menghargai orang yang bekerja
dengan tangannya sendiri. Ketika seseorang kelelahan setelah pulang kerja, maka
Allah SWT. mengampunkan dosanya saat itu juga. Selain itu orang yang bekerja
dengan tangannya sendiri, baik untuk kebutuhannya maupun kebutuhan keluarganya
dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah. Sehingga Islam
memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang berusaha dengan sekuat
tenaga dalam mencari nafkah. Sebagai mana firman Allah:
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا
مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ
آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
Berimanlah
kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang
Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di
antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang
besar. [78]
Di
ayat alain Allh juga mengatakan:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ
أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.[79]
Menurut penulis, yang ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan
perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama atas perbuatan baiknya, Allah
akan memberikan ganjaran yang lebih baik dari apa yang telah manusia lakukan
dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Ayat ini tidak
membedakan adanya perbedaan dalam porsi pahala bagi manusia, baik laki-laki
maupun perempuan.
“Dari Mansur
,dari Abi wa’il, dari Masyruq, dari ‘Aisyah ra. berkata: Bersabda Nabi saw. :
Apabila seorang istri membelanjakan sebagian makanan dari rumahnya tanpa
mendatangkan kerusakan, maka baginya ganjaran sesuatu yang telah dinafkahkan
dan bagi suaminya mendapat sesuatu yang ia usahakan dan bagi penjaganya
mendapat pahala yang sepadan dengan itu, sebagian mereka tidak bisa mengurangi sebagian
yang lain sedikitpun.” (Al-Bukhari,
Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ , 1998)
Hadis di atas menunjukkan bahwa peran suami
sebagai pencari nafkah atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah dan istri
berperan atau bekerja sebagai pelaksana amanah dalam memenuhi kebutuhan rumah
ini masing-masing memperoleh ganjaran pahala.
E. Celaan
Alquran Bagi Orang Yang Pemalas
Rasulullah
Muhammad SAW melarang
umatnya meminta-minta dan memohon derma dan menyuruh penderita cacat
mempergunakan lengan dan kekuatannya untuk berusaha memperoleh kesejahteraan
hidupnya. Rasulullah memerintahkan mereka bekerja dengan kemauan kerja dan
memberinya dorongan agar tidak merasa lemah dan mengharapkan belas kasih orang
lain. Rasululah saw. bersabda:
“Dari Zubair bin Awwam ra.
berkata: Nabi saw. bersabda, sesungguhnya dari kalian mengambil tali, maka hal
itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang banyak.” (Al-Bukhari,
Isma’il, Ṣāḥȋḥ al-Bukharȋ , 1998)
“Dari Anas bin Malik ra. ia berkata Rasulullah saw. memohon perlindungan
seraya bersabda, ya Allah aku berlindung kepadamu dari kemalasan, aku
berlindung kepadamu dari sifat penakut aku berlindung kepadamu dari usia renta
dan aku berlindung kepadamu dari sifat kikir”. (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ ,1998)
“Menceritakan kepada kami Anas bin Malik berkata Rasulullah saw. bersabda,
ya Allah aku berlindung kepadamu dari kesusahan, kemalasan, rasa takut, usia
renta dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari azab kubur dan dari fitnah
kehidupan dan kematian”. (Muslim, Abi Husain, Ṣāḥȋḥ Muslim).
Adapun doa di atas menunjukkan, bahwa ajaran Islam sangat membenci orang
yang malas tidak mau bekerja dan tidak mau ikhtiar, pesimis dan sifat-sifat
buruk lainnya. Rasulullah saw. melarang ummatnya duduk belaka dan bersikap
menyerah atas kesusahan kesusahan-kesusahannya karena utang atau terdesak oleh
kebutuhan. Hadis Abu Umamah di atas merupakan
kalimat yang membuang perasaan lemah pada Abu Umamah dan mengubahnya menjadi
giat bekerja. Kemudian Allah menghilangkan kesusahannya dan menyelesaikan
utangnya. Dan alangkah banyak jiwa itu membutuhkan orang yang mampu
membangkitkan kembali dan menggerakkan hati ketika kita merasa lemah. Akan
tetapi tidak ada dorongan yang lebih kuat dari pada dorongan dan tekanan iman.
Menurut penulis, Islam mengajarkan manusia untuk bergerak, berusaha dan
memanfaatkan bumi sebagai fasilitas yang diberikan Allah untuk memakmurkan
dirinya dan sekitarnya, yaitu dengan memperhatikan hak-hak yang terkait dengan
aktivitasnya. Aktivitas kehidupan manusia yang
baik dan bermanfaat dinilai sedekah. Adapun sedekah merupakan ibadah. Akan
tetapi Islam melarang aktivitas yang berlebihan atau eksploitasi. Islam
mengajarkan hidup seimbang baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata, Rasulullah saw., bersabda
kepadaku, Ya Abdullah, aku diberi kabar bahwa engkau berpuasa sepanjang siang
dan bangun untuk salat sepanjang malam? Aku berkata,
Benar ya Rasulullah. Beliau bersabda, janganlah engkau lakukan lagi. Puasalah
sehari dan berbukalah sehari. Bangunlah dan tidurlah. Sesungguhnya tubuhmu
mempunyai hak atasmu, mata mu mempunyai hak atasmu, isterimu mempunyai hak
atasmu, dan tamumu mempunyai hak atasmu. Dan sesungguhnya cukuplah kiranya jika
engkau puasa tiap-tiap bulan tiga hari. Maka untuk setiap kebaikan akan dibalas
sepuluh kali lipat. Sesungguhnya yang demikian itu sama dengan puasa sepanjang
masa. Karna aku minta diperbanyak maka diperbanyak untukku. Aku berkata, wahai
Rasulullah sesungguhnya aku sanggup. Beliau bersabdapuasalah seperti puasa Nabi
Daud as. dan janganlah engkau ebih dari itu. Aku berkata, bagaimana puasa Nabi
Daud as.. Beliau bersabda, setengah tahun. Ketika Abdullah telah tua, beliau
berkata, seandainya aku menerima keringanan Nabi saw.” (Al-Bukhari,
Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ , 1998)
Dari hadis-hadis di atas
menunjukkan, Nabi melarang umatnya meminta-minta dan duduk belaka, serta
mendorongnya bekerja, seperti larangan beliau memberikan zakat kepada mereka
yang mampu berusaha dan anjurannya untuk bersikap menahan diri. Dalam sebuah
hadis dari Abdulah bin Adi bin Al-Khiyar, disebutkan bahwa dua orang laki-laki
pernah datang kepada Rasulullah meminta sedekah, maka berulang-ulang beliau
memandangi mereka. Ketika beliau melihat bahwa kedua orang itu masih kuat untuk
bekerja, maka Beliau bersabda: “Kalau kalian mau, akan kuberi, tapi tidak ada
bagian padanya untuk orang kaya dan orang yang masih kuat berusaha”. Berkata
imam Ahmad bin Hambal: “Betapa bagusnya hadis ini”. Selanjutnya As-San’ani
berkata pula hadis ini termasuk dail-dalil haramnya sadaqah kepada orang kaya
dan orang yang masih kuat berusaha, sebab pekerjaannya itulah menjadikan dia
dihukumi kaya.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al-Bukharȋ, 1998).
Ketika Nabi Yusuf diangkat sebagai kepala Badan Logistik Kerajaan Mesir
yang diminta rajanya adalah kuat dan amanah. ".(QS. Al- Qasas (28):
26)
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ
اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ
خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah
seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai
orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang
kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.[80]
Begitu pula pada pengangkatan Nabi Yusuf diangkat sebagai pekerja dalam keluarga Nabi Syu’aib,
catatan yang diberikan kepada dirinya adalah karena dia orang yang kuat dan
amanah. (QS Yusuf (12): 54)
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ
أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Dan
raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang
yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia,
dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang
berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".[81]
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Rasulullah saw.
bersabda sedang beliau berada di atas mimbar. Beliau
menyebutkan tentang sedekah dan menjauhi perbuatan meminta-minta, karena tangan
di atas lebih baik dari tangan di bawah; tangan di atas adalah yang memberi dan
tangan di bawah adalah yang meminta.[82]
Ketika kaum muslimin berhijrah ke Madinah, Rasululah
mempersaudarakan Abdurahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad bin Rabi’
berkata, “Aku adalah yang paling banyak hartanya di antara orang Anshar, aku
akan membagi separuh hartaku untukmu, dan pilihlah di antara istriku yang kamu
sukai, aku akan menyerahkannya padamu.apabila ia telah halal kelak , kawinilah.
Berkatalah Abdur Rahman, “Aku tidak membutuhkan
semua itu, tetapi adakah pasar untuk berdagang?”Sa’ad menjawab: “Pasar
Quenuqa.”maka datanglah Abdur Rahman membawa susu kering dan samin lalu ia
meneruskan perjalanannya, dan begitulah seterusnya sehingga suatu hari ia
datang menghadap Rasulullah saw. dan padanya ada bekas kekuning-kunigan.
Rasulullah saw. bertanya: “Sudahlah engkau menikah?” Jawab Abdur Rahman “Ya”
Rasul bertanya lagi “Dengan siapa?” Jawabnya “Seorang wanita dari Anshar” Rasul
bertanya “berapa banyak mas kawin yang kau berikan kepadanya?” Jawabnya pula
“Setimbang biji kurma dari emas”. Bersabda Rasulullah kepadanya: “Adakanlah
walimah meskipun dengan seekor kambing.[83]
Tatkala Nabi saw. hendak membangun
masjid kaum musliminpun ikut membangunnya. Rasululah bersama mereka membawa
batu-batu. Demikian juga ketika kaum muslimin membuat parit disekitar kota
Madinah, Nabi saw. ikut pula beserta mereka melubangi dan menjagainya. Beliau
menunjukkan bahwa bekerja adalah jalan usaha.
Dalam contoh di atas terkandung
motivasi pokok bagi orang Islam untuk menggunakan kekuatannya dengan
mempekerjakan kedua tangannya, yaitu mencari anugerah Allah dalam melaksanakan
usaha yang dibolehkan syariat dan mencari anugerah Allah dalam melaksanakan hak
yang merupakan fitrah, dan selanjutnya menempuh cara yang memudahkan lapangan
kerja dan jasa bagi semua manusia demi kesejahteraan umat dalam berbagai
lapangan, baik pertanian, perdagangan maupun industri.[84]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bekerja
merupakan kewajiban setiap muslim karna bekerja itu identitas manusia yang
berdasarkan prinsip iman (tauhid) yang dapat meninggikan derajatnya. Bekerja
bukan hanya memuliakan dirinya sebagai manusia, tetapi juga sebagai manifestasi
dari amal saleh, dan mempunyai nilai ibadah yang luhur dihadapan Tuhan sehingga
dapat mengekspresikan dirinya sebagai manusia, makhluk ciptaan tuhan yang
paling sempurna di dunia. Setiap pekerjaan yang dilakukan karena Allah sama
halnya dengan melakukan Jihādf ῑ Sabῑlillah. Jihād
memerlukan motivasi, dan motivasi memerlukan pandangan hidup yang jelas. Itulah
yang disebut dengan etos. Etos kerja seorang muslim harus selalu dilandasi
Alquran dan Hadis.
Alquran
menganjurkan setiap individu untuk aktif bekerja dan memproduktifkan segala
aspek yang berguna untuk kebutuhan masyarakat. Salah satu manfaat salat adalah
menerangkan fikiran dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mampu
mengendalikan diri, dari mabuk kerja (workaholic) yang mungkin dialami
seseorang sehingga terjadi proses penjernihan fikiran, kreativitas dan gagasan
inovatif. Motivasi kerja dan optimisme untuk mencari rezeki bisa timbul dengan
mengingat firman Allah. Motivasi kerja dalam Islam bukanlah mengejar hidup hedonis,
bukan juga untuk status, apalagi untuk mengejar
B.
Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah
diuraikan diatas, maka penulis menyarankan sebagai berikut :
1. Bagi
perkembangan ilmu pengetahuan
diharapkan agar bisa dijadikan sebagai kerangka acuan atau rujukan dalam menelaah
atau meneliti tentang Etos Kerja menurut al-quran.
2. Bagi
masyarakat luas khususnya ummat Islam perlu
lebih ditingkatkan upaya sosialisasi intensif melalui pengajian, ceramah agama,
disikusi dan lain-lain tentang Etos
Kerja dalam Perspektif Islam.
3. Bagi penulis sendiri Tulisan ini adalah sebagai salah
satu tugas berstruktur pada mata Kuliah Tafsir hadist Tematik di Program Doktor
Ekonomi Islam UIN Sumatera Utara.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul
Karim, Al-Quran Digital
Al-‘Assa, Ahmad Muhammad, dan Fathi Ahmad Abdul Karim,, Sistem,
Prinsip,
dan Tujuan Ekonomi Islam,
Bandung: Pustaka Setia, 1999.
al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan, Terj.
Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiyah
Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam
di Masa Rasululah, Jakarta:
Rabbani Press,
2003.
Atthabari, Abu Djakfar Muhammad,Tafsir Atthabari Terjemahan Pustaka Azam,
Jakarta: Pustaka Azam, 2012.
Baqi, Muhammad Fuad Abdul, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alfazhil 1364 H
Clifford, “Kebudayaan dan Agama”, Yogyakarta: Kanisius, 2000.
Echols,
John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama,
2005.
Edwin, Mustafa, Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam, Jakarta:
J-Art, 2007.
Ewzar, Hadist Ekonomi, Jakarta: Rajawali Grafindo
Persada, 2013.
Harahap, Sofyan S, Etika
Bisnis Dalam Perspektif Islam, Jakarta: Salemba Empat,
2011.
Kahn,
Muhammad Akram, Ajaran Nabi Muhammad SAW. Tentang Ekonomi:
Kumpulan Hadis-hadis Pilihan Tentang
Ekonomi, Jakarta: Bank
Muamalat, 1996.
Keraf, Sonny, Etika Bisnis;
Tuntutan dan Relevansinya Yogyakarta: Kanisius,
2010.
Khallaf,
Abdul
Wahhâb Ilmu Ushul al-Fiqh, Abdul
Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul
Fiqh, terj. Masdar Helmi, Bandung : Gema
Risalah Pres, 1996.
Nuruddin, Amiur, Kalam:
Membangun Paradigma Ekonomi, Bandung: Cita
pustaka Media,
2008.
Raghib,
Al Alamatul, MufrādātāzAlfān,Alqur, Beirut: D al Qalam, 2002.
Ridho
Rasyid, Tafsir al manar Vol 11,
Kairo: Al-ad, 1367.H.
Shihab,
Muhammad Quraish, Tafsir Al-Misbah Vol. 10, Jakarta:Lentera Hati,
2003
---------,
Muhammad Qurash, Ensikopedia Al-Qur’an,
Jakarta: Dirasah al-Alfadz,
2007.
Sinamo, Jansen H., 8 Etos Kerja
Profesional, Jakarta: PT. Malta
Printindo, 2008.
Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Semarang: CV.
Widya
Karya, 2009.
Suma, Muhammad Amin, Tafsir Ayat Ekonomi,
Jakarta: Amzah, 2013.
Tarigan, Azhari Akmal, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, Medan:Perdana Mulya Sarana,
2012.
Tasmara, Toto, Membudayakan Etos Kerja Islami, Jakarta: Gema
Insani, 2002.
[4] John M. Echols
dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2005), h.
219.
[7] Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: CV. Widya Karya, 2009), h.
309.
[10] Abu Djakfar
Muhammad Atthabari,Tafsir Atthabari Terjemahan Pustaka Azam, (Jakarta:
Pustaka Azam, 2012).
[12] Suharso dan Ana
Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: CV. Widya Karya,
2009), h. 242.
[17] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li
alfazhil (1364 H)
[19] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam
al-Mufahrasāzil li alfazhil (1364 H)
[21] Alquran Surah ke (18) al Kahfi
ayat 79.
[23] alquran Surah ke (27) An-Naml
ayat 88.
[24] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam
al-Mufahrasāzil li alf (1364 H)
[25] Alquran Surah ke (20) Thaha ayat
41.
[26] Alquran surah ke (27) An Naml ayat
ke 88.
[27] Alquran Surah ke (7) al’ a’raf
ayat 137.
[28] Alquran Surah ke (20) ayat 69.
[29] Alquran Surah ke (21) al Anbiya
Ayat 80.
[30] Alquran Surah ke (11) Hud ayat 37.
[31] Azhari
Akmal Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, (Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).
[32] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Vol.
10, (Jakarta:Lentera Hati, 2003)
[33] Alquran Surah ke (2)) Al-Baqarah Ayat 197.
[34] Alquran Surah ke (2) al
baqarah ayat 279
[35] Azhari Akmal
Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi,
(Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).
[36] Alquran surah ke (4) Annisa ayat 32
[37] Muhammad Fuad
Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alf (1364 H)
[38] Alquran Surah ke (2) ayat 79.
[39] Alquran Surah ke (111) ayat 2
[40] Alquram surah ke (2) ayat 267.
[41] Alquran Surah ke (2) albaqarah
ayat 134.
[42] Muhammad Qurash Shihab, Ensikopedia Al-Qur’an, (Jakarta:
Dirasah al-Alfadz, 2007).
[43] Azhari Akmal Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, (Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).
[45] Alquran surah ke (53) annajam ayat
39-40
[46] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam
al-Mufahrasāzil li alf (1364 H)
[47] Alquran Surah ke (2) al baqarah
ayat 114
[48] Alquran Surah ke (2) al baqarah
ayat 205
[49] Alquran Surah ke (5) aalmaidah
ayat 114
[50] Alquran Surah ke (17) al Isra ayat
19.
[51] Alquran Surah ke (53)Annazm 30-40
[52] Alquran Surah ke (92) al Lail ayat
4.
[54] Alquran Surah ke (62) al Jumah
ayat 9.
[55] Alquran Surah ke (17) al Isra ayat
19.
[56] Alquran Surah ke (28) AL
Qasas ayat 20.
[57] Muhammad Amin Suma, Tafsir Ayat
Ekonomi, Jakarta: AMZAH, 2013)
[58] ” alquran
Surah ke (17) Al-Isra’ ayat 12.
[61] Ahmad
Muhammad al-‘Assa, dan Fathi Ahmad Abdul
Karim,, Sistem, Prinsip, dan Tujuan Ekonomi Islam, (Bandung:
Pustaka Setia, 1999).
[62] Amiur Nuruddin, Kalam: Membangun Paradigma
Ekonomi, (Bandung: Citapustaka Media, 2008).
[63] Alquran Surah ke (9) At-Taubah
ayat 105.
[64] t. (Imam Ar-Razi: 1994)
[65]
(Ath-Thabari: 2009)
[66] Rasyid Rodho, Tafsir al manar Vol 11, (Kairo: Al-ad, 1367)
[67]
Alquran surah ke (2) albaqarah ayat 264.
[68] Aquran Surah ke (3) Ali Imran ayat 57.
[69] Alquran Surah ke (73) al Muzzammil
ayat 20.
[70] Alquran Surah ke (53) Annajam ayat
31
[71] Alquran surah ke (4) Annisa ayat
32
[73] Alquran Surah ke (28) al Qashas
ayat 26
[74] Alquran Surah ke (65) Atthalaq
ayat 6
[75] Alquran Surah ke (10) Yunus ayat
72
[76] Al quran surah ke (29) al ankabut
ayat 58.
[77] Al quran surah ke (12) Yusuf ayat
57.
[78] Alquran surah ke (57) alhadid ayat 7.
[79] Alquran Surah ke (18) Anahal ayat
97.
[80] Alquran Surah ke (28) al Qashas
ayat 26.
[81] Alquran Surah ke (12) Yusuf ayat
54.
[82] Muhammad Akram Kahn, Ajaran Nabi Muhammad
SAW. Tentang Ekonomi: Kumpulan Hadis-hadis Pilihan Tentang Ekonomi,
Jakarta: Bank Muamalat, 1996).
[83] Muhammad Sa’id
Ramadhan al-Buthi, Terj. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiyah Manhajiah Sejarah
Pergerakan Islam di Masa Rasululah, (Jakarta:
Rabbani Press, 2003)
[84]Mustafa, Edwin, Pengenalan
Eksklusif: Ekonomi Islam, Jakarta: J-Art,2007).