Senin, 29 Januari 2018

ETOS KERJA DALAM ALQURAN


ETOS KERJA DALAM ALQURAN
Diajukan Sebagai Salah Tugas berstruktur pada Mata kuliah Tafsir Hadist Tematik pada Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan
Diasuh oleh:
Dr. ACHYAR ZEIN, M.Ag
Disusun oleh:
MUHAMMAD ABDULLAH AMIN HASIBUAN

Program Doktor
EKONOMI SYARIAH
logo-uinsu2
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2017





KATA PENGANTAR
       Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang "Etos Kerja dalam al-quran" ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
       Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas pada mata kuliah Tafsir Hadist Tematik pada Program Doktor Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sumatera Utara. Disamping itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dr. Achyar Zein, M.Ag selaku Dosen pembimbing yang telah mengarahkan penulis dalam pembuatan makalah ini.
       Demikian yang dapat kami sampaikan, kritik membangun dan saran-saran dari semua pihak serta perbaikan akan kami lakukan demi kesempurnaan makalah ini.

Medan,  September 2017


Penulis












DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar      ................................................................................................ i
Daftar Isi................. ..............................................................................................ii

BAB I   Pendahuluan
A.           Latar Belakang............................................................................................. 1

BAB II Etos Kerja dalam alquran
          A. Pengertian Etos Kerja....................................................................................... 3
B.  Perintah Bekerja dalam Alquran..................................................................... 6
  B.1. Kata ‘Amal............................................................................................... 6
  B.2  Kata San’u................................................................................................ 8
  B.3. Kata Fi’il.................................................................................................. 11
  B.4. Kata Kasb................................................................................................. 12
           C. Motivasi alquran dalam Bekerja....................................................................... 17
           D. Penghargaan alquran dalam Bekerja................................................................ 20
           E.  Celaan alquran bagi Yang Pemalas................................................................. 27

BAB III   PENUTUP
A.Kesimpulan................................................................................................... 31
B.Saran Saran................................................................................................... 31

  DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 33






BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam ajaran Islam, kekuataan iman semata-mata belum akan memberikan arti penting bagi kehidupan, tanpa diikuti oleh aktivitas dan amal perbuatan atau kerja. Sebaliknya aktivitas dan amal perbuatan yang tidak dilandasi oleh iman akan bernilai hampa dalam pandangan Islam karena di dalamnya tidak ada motivasi pengabdian.
Islam memandang kerja sebagai kodrat hidup manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Kerja juga merupakan jalan utama mendekatkan diri kepada Allah sehingga dapat dijadikan pedoman yang mendasar. Bekerja adalah fitrah, sekaligus identitas manusia yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman (tauhid) bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim melainkan juga meninggikan derajat.
Berdasarkan Q.S. Al-An’am  ayat 132 sebagai berikut :
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan[1].
Kemudian berdasarkan Q.S. Al-Mulk ayat 2 sebagai berikut:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
        Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.[2]
Kedua ayat di atas pada intinya memberikan pemahaman bahwa  Allah menjadikan harga diri seseorang manusia berbanding lurus dengan instrument amaliahnya di dunia.
Bekerja merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan bekerja seorang muslim dapat mengekspresikan dirinya sebagai manusia, makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna di dunia. Setiap pekerjaan yang dilakukan karena Allah sama halnya dengan melakukan Jihādf Sabῑlillah.
Tujuan diakukan penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana Alquran dan al-hadis memandang konsep kerja dan bagaimana cara seorang muslim berperilaku dalam kaitannya dengan pekerjaan. Tulisan ini terdiri atas beberapa bagian, dimulai dengan pendahuluan yang membahas mengenai latar belakang, tujuan dan sistematika penulisan. Kemudian memaparkan pengertian etos kerja dalam alquran. Selanjutnya Mengenai perintah bekerja dalam alquran, Motivasi alquran dalam bekerja, penghargaan alquran dalan bekerja dan celaan alquran bagi orang yang pemalas.
Penulisan yang digunakan dan Pembahasan mengenai etos kerja dalam perspektif Alquran dan hadis melalui pendekatan tafsir tematik dan selanjutnya akan ditarik sebuah Kesimpulan sebagai Penutup.

















BAB II
ETOS KERJA DALAM ALQURAN
A. Pengertian Etos Kerja
Secara etimologis, kata etos berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti:  sikap,  kepribadian,  watak,  karakter,  serta  keyakinan  atas  sesuatu.[3] Menurut  John  M  Echols  dan  Hassan  Shadily  ethos  adalah “jiwa khas suatu bangsa”. di mana sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang meyakininya. Dari kata etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik-buruk (moral). [4]
Hal ini berarti, etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain. Kebiasaan ini lalu terungkap dalam perilaku berpola yang terus berulang sebagai sebuah kebiasaan.[5]
Menurut H. Toto Tasmara, etos adalah sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai kerja. Dari kata etos, maka lahirlah apa yang disebut dengan “ethic” yaitu pedoman, moral dan prilaku atau dikenal pula dengan istilah etiket yang artinya cara bersopan santun.[6]
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial dimana etos kerja merupakan semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Dari kata etos dikenal kata etika yang mendekati pegertiannya pada akhlak (nilai yang berkaitan dengan baik buruknya moral) yaitu ilmu tentang apa yg baik dan buruk; dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).[7]
Etika adalah agama, karena agama memberi pedoman mana yang benar dan mana yang salah dalam ilmu dan tingkah laku. Dalam Islam hal ini merupakan bagian yang sentral untuk membentuk keyakinan dan nilai dalam Islam yang harus diketahui, diamalkan dan didakwahkan kepada orang lain.[8]
Menurut Ewzar, etos kerja adalah cara kerja yang memiliki tiga dasar yaitu keinginan untuk menunjukkan mutu pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan dan kemampuan untuk member pelayanan kepada masyarakat melalui karya professional.[9]
Etos kerja muslim merupakan cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja bukan hanya memuliakan dirinya sebagai manusia, tetapi juga sebagai manifestasi dari amal saleh, dan mempunyai nilai ibadah yang luhur dihadapan Tuhan. Jihād memerlukan motivasi, dan motivasi memerlukan pandangan hidup yang jelas. Itulah yang disebut dengan etos. Etos kerja seorang muslim harus selalu dilandasi Alquran dan Hadis.[10]
Sedangkan secara terminologi kata etos diartikan sebagai suatu aturan umum, cara hidup, tatanan dari prilaku atau sebagai jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku yang berupayauntuk mencapai kualitas yang sesempurna mungkin.[11]
Sedangkan Kata kerja dalam KBBI artinya adalah kegiatan melakukan sesuatu.[12] Kerja adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang, baik sendiri atau bersama orang lain, untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. Sedangkan menurut Toto Tasmara, kerja adalah suatu upaya yang sungguhsungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairulummah).[13]
Makna kerja dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memenuhi kebutuhannya, baik di dunia maupun akhirat. Bekerja bukanlah sekedar untuk memperoleh penghasilan, namun bekerja yang lebih hakiki merupakan perintah Tuhan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Melalui bekerja, dapat diperoleh beribu pengalaman, dorongan bekerja, bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dituntut kerja keras, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Apabila etos dihubungkan dengan kerja, maka maknanya menjadi lebih khas. Etos kerja adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata dengan arti yang menyatu. Dua makna khas itu adalah semangat kerja, dan keyakinan seseorang atau kelompok. Selain itu juga sering diartikan sebagai setiap kegiatan manusia yang dengan sengaja diarahkan pada suatu tujuan tertentu. Tujuan itu adalah kekayaan manusia sendiri, entah itu jasmani maupun rohani atau pertahanan terhadap kekayaan yang telah diperoleh.
Menurut Jansen H. Sinamo, etos kerja professional adalah seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada paradigma kerja integral.[14] Etos kerja pada mulanya dari paradigma, tetapi kemudian dianggap sebagai sebuah keyakinan. Sebagai paradigma, nilai-nilai kerja tertentu diterima sebagai nilai yang baik dan benar oleh seseorang atau kelompok. Artinya, seseorang dapat diterima atau dihargai dikelompoknya apabila menunjukkan perilaku sesuai norma yang disepakati bersama. Dengan kata lain, etos kerja dapat juga berupa gerakan penilaian dan mempunyai gerak evaluatif pada tiap-tiap individu dan kelompok. Dengan evaluasi tersebut akan tercipta gerak grafik menanjak dan meningkat dalam waktu-waktu berikutnya. Ia juga bermakna cermin atau bahan pertimbangan yang dapat dijadikan pegangan bagi seseorang untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil kemudian. Ringkasnya, etos kerja adalah doublestandar of life yaitu sebagai daya dorong di satu sisi, dan daya nilai pada setiap individu atau kelompok pada sisi lain.
B. Perintah Bekerja dalam al Quran
           Dunia kerja dalam Islam meliputi semua usaha yang bersifat membangun dan menjangkau seluruh industri dalam bidang perdagangan, pertanian, pelayanan dan jasa serta semua jenis pekerjaan yang bersifat mengabdi kepada manusia, memerlukan keterampilan tangan, kecerdasan, pemikiran dan kesusasteraan, bahkan para fuqaha memandang kepemimpinan dalam kenegaraan dan pemerintahan dapat digolongkan ke dalam bentuk pekerjaan atau profesi. Dalam menjalankan aktivitas tersebut agar tetap stabil diperukan etos kerja yang baik sesuai Alquran dan Hadis.
Abu Bakar termasuk salah seorang tokoh Islam kalangan sahabat yang mempromosikan jabatan khilafah (Kepala Negara) sebagai profesi tatkala beliau mengatakan :”Inni la’a’malu li al-muslimin” (aku akan bekerja demi kepentingan kaum muslimin) sering pula didengar kata al-‘ummal yang digunakan untuk menyebut para pemimpin (al-wulāti).[15]Kata kerja dalam Alquran, diungkap setidaknya melalui empat kata, yaitu: al-‘Amal, aṣ-Ṣan’u, al-Fi’il, al-Kasbu, dan as-Sa’yun.
B.1. Kata ‘Amal
Ayat tentang kerja di dalam Alquran seluruhnya berjumah 602 kata. Adapun ayat-ayat dan hadis-hadis di bawah ini hanya merupakan sebagian dari sekian banyak ayat Alquran dan al-Hadis yang membahas tentang dunia kerja atau etos kerja, diantaranya adalah:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”[16]
            Ayat di atas menggunakan kata amal yang bermakna tindakan praktis. Selanjutnya kata al-Amal merupakan kata yang paling banyak disebut dalam Alquran.
Ditemukan kata ‘amal (‘amal, ‘āmilu,āmal,ūn,‘ ta‘malya’malūn    dan lainnya) dalamāq Alquran disebut sebanyak 360 kali.[17] Kata ini bermakna lebih khusus dari fi’il, kata ‘amal jarang sekali dikaitkan dengan perbuatan hewan, tidak digunakan ‘amal pada hewan kecuali pada firman Allah mengenai sapi untuk bekerja.[18] Khusus untuk amal manusia disebut 312 ayat.[19] Perbuatan mencakup perbuatan baik (‘amil as-salihat) dan perbuatan jelek (amil as-sayyi’at).[20]
Para mufasir menafsirkan ayat di atas dalam konteks ‘amal dalam arti sempit atau bādah   maḥḍah, namun kita dapat mengembangkan maknanya menjadi lebih luas. Kata ‘amal mencakup segala aktivitas manusia yang bertujuan untuk menghasilkan barang atau jasa. Inilah yang disebut kerja dalam makna yang luas. Kerja bisa baik dan buruk yang semuanya tidak tersembunyi bagi Allah swt. Orang yang bekerja dengan baik, profesional dan sempurna maka ia memperoleh keuntungan material juga spiritual. Kerja itu sesungguhnya upaya kemanusiaan untuk menunjukkan kualitas dihadapan Allah swt. oleh sebab itu menjadi keniscayaan baginya untuk menunjukkan kerja yang baik. Kata amal yang bermakna kerja dapat dilihat pada QS. Al-Kahfi ayat 79, sebagai berikut:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبً
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.[21]
 Allah swt. menceritakan perjalanan Nabi Musa bersama Nabi Khaidir.[22]
Pada dasarnya surah at-Taubah ayat 105 memerintahkan semua dan setiap orang untuk berusaha, termasuk usaha ekonomi. Semua dan setiap usaha pasti akan diketahui oleh Allah, dan orang-orang beriman dalam hal ini menginformasikan arti penting dari penilaian Allah, penilaian Rasul-Nya, dan penilaian orang-orang mukmin terhadap prestasi (kerja) seseorang. Semua prestasi itu pada dasarnya akan memperoleh balasan/hasil baik yang berhubungan dengan prestasi kerja duniawi (bermotif ekonomi) dan yang berhubungan dengan nilai ukhrawi. Semua dan setiap perbuatan seseorang baik maupun buruk kelak di akhirat akan diinformasikan dan diperlihatkan secara transparan apa adanya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak.
B.2. Kata Sun’u
            Sebagimana terdapat dalam Al-quran Surah An naml ayat 88.
وَترَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [23]
Kata ṣun’u (iṣtana’tuka, iṣna’, taṣna’un, ṣun’ā, ṣan’ah, maṣani’ dan lainnya) dalam Alquran disebut sebanyak 20 kali yang tersebar pada 14 surah dan 19 ayat.[24] Aṣ-ṣun’u dalam Alquran mengandung arti perbuatan yang pelakunya terkadang Allah sendiri dapat kita lihat dalam QS. Thaha (20):41 sebagai berikut:وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي  (dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku[25] dan Q.S. An-Naml (27):88) sebagai berikut: صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan[26], Sedangkan pada bagian lain pelakunya adalah manusia.
Sehubungan dengan manusia sebagai pelaku adakalanya perbuatan itu baik atau buruk. Konteks perbuatan melahirkan sesuatu, Alquran menjelaskan daya cipta manusia seperti:
1.      Fir’aun dan kaumnya membuat bangunan dan istana (QS. Al-A’raf (7):137) sebagai berikut:
وَأَوْرَثنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ
Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.[27]
2.      Tipu daya tukang sihir Fir’aun (QS. Thaha (20):69) sebagai Berikut:
وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ
Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".[28]
3.      Nabi Daud membuat baju besi (QS. Al-Anbiya’ (21):80 sebagai berikut:
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).[29]
4.      Kaum Nabi Hud (‘Ad) membuat benteng (QS. Asyu’ara (26):129) sebagai berikut:
وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ
Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?
5.      Nabi Nuh membuat perahu (QS. Hud (11):37) sebagai berikut:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.[30]
Kata ṣun’u adalah daya cipta manusia yang lahir dari keterampilan dan keahian tertentu atau profesi yang pada gilirannya akan melahirkan profesionaisme. Kata ṣana’ atau ṣun’u biasanya digunakan untuk perbuatan yang dilakukan dengan penuh kesungguhan. Pelakunya biasanya memiliki keterampilan dan kemahiran. Maknanya juga melakukan dengan sebaik-baiknya, yang dalam pelaksanaannya menuntut al-jaudah yang bermakna sempurna/ahsan (yang terbaik).[31]
Kata ṣun’u dalam ayat di atas dihubungkan dengan Allah sebagai pelakunya. Para mufasir memahami ayat di atas dalam konteks peristiwa hari kiamat yaitu keadaan gunung pada saat manusia dibangkitkan dari kubur. Ayat ini menurutnya menyatakan : “Dan engkau wahai Muhammad atau siapapun akan melihat gunung-gunung pada saat kebangkitan dari kubur, engkau menyangkanya tetap ditempatnya tidak bergerak. Padahal ia berjalan sampai menjadi bagian kapas yang berterbangan, perjalanannya sebenarnya sangat cepat, tetapi karena tidak jelas maka ia terlihat bagaikan jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan sebaik-baiknya tiap sesuatu; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[32]
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.[33]

Kata berbekalah pada ayat tersebut maksudnya bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau meminta-minta selama dalam perjalanan haji. Hal ini berarti bekal dari segi materi dan utntuk mendapatkan materi diperukan bekerja, yaitu bekerja yang baik agar dapat memperoleh beka yang baik pula.
Ayat di atas sebelum dan sesudahnya adalah membahas masalah haji, alquran memerintahkan orang yang meaksanakan haji untuk melakukan kebaikan. Apa saja kebaikan yang dikerjakan seorang muslim yang telah mengerjakan haji, pasti Allah akan mengetahui dan mencatatnya dan akan dibalasannya dengan paha yang berlipat. Agar ibadah haji dapat terlaksana dengan baik dan sempurna.
B.3. Kata Fi’il
Kata al-fi’il (if’al,ūn,tafūn,yaā’il,afūla’,maf’ltf’al      dan lainnya) di dalam Alquran disebut 108 kali, Kata fi’il berarti perbuatan dengan pelaku yang bermacam-macam. Konsep fi’il bersifat umum sama dengan ‘amala. Kata fi’il artinya perbuatan atau kegiatan yang mencakup secara umum, perbuatan baik (al-Khairat) dan al-ma’ruf. Fi’il juga mengacu pada perbuatan buruk atau negatif, khusus dengan masalah keyakinan. Kata fā’al berhubungan dengan harta riba, misalnya
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.[34]
Kata taf’alu kendati konteks ayat adalah haji namun bisa dikembangkan dengan aktifitas lain seperti berdagang. (QS Al-Baqarah: 198) dimana Allah memperkenankan orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji berusaha seperti berdagang dan aktivitas ekonomi lainnya.[35]
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.[36]

B.4. Kata Kasb

Kata kasb (iktasaba, iktasabat, iktasabu,kasaba,kasabtum dll) di dalam Alquran disebut 67 kali di dalam 27 surah dan 60 ayat.[37] Keutamaan laki-laki atau perempuan dalam ayat tersebut adalah harta kekayaan yang diperoleh masing-masing melalui hasil kerja keras (al-jiddat wa al-kasb). Semua itu hanya dapat diperoleh dengan kerja dan usaha (al-kasb wa al-sa’yu). Kasb dalam Alquran mengandung arti seperti:
1.      Menggambar dapat dilihat dala alquran Baqarah ayat 79 sebagai berikut:
فوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْترُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.[38]
2.      Anak dapat dilihat dalam alquran Surah Al-Lahab ayat 2 sebagai berikut:
مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.[39]
3.      Mengumpulkan dapat dilihat dalam alquran Surah al-Baqarah Ayat 267 sebagai berikut:
يَا أَيهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[40]
4.      Bekerja dapat dilihat dalam alquran Surah Al-Baqarah ayat 134 sebagai berikut:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.[41]
Kata Kasb menurut ahli bahasa mengandung arti menginginkan, mencari dan memperoleh, dari sini muncul makna mencari rezeki dan mencari apa saja yang bermanfaat termasuk harta atau sesuatu yang diduga mendatangkan manfaat (keuntungan dan ternyata mendatangkan mudharat (kerugian). Anak juga disebut kasb karena bapaknya menginginkannya dan berusaha untuk mendapatkannya. Dan kasb digunakan untuk diri sendiri dan orang lain. Kata kasb dalam Alquran ada yang dirangkai dalam hal positif dan adapula yang negatif.[42]
 Kata iktasaba digunakan pada apa yang manusia memperoleh manfaat untuk dirinya. Kasaba lebih luas dari pada itu karena digunakan untuk kemanfaatan dirinya dan orang lain.[43] Sa’yun juga berarti berjalan dengan cepat tanpa berlari dan bersungguh-sungguh menjalankan perintah yang baik atau yang buruk.[44] Dapat dilihat dala alquran sebagai berikut:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.  Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat kepadanya).[45]
Kata sa’yun (sa’a, sa’au, tas’a, yas’a, yas’auna, fas’au dll) dalam Alquran disebut sebanyak 30 kali yang tersebar padaāq 20 surah dan 26 ayat.[46]
 As-sa’yun berarti kasbun dan semua amal dari yang baik dan yang buruk. As-sa’yun yang menunjukkan amal perbuatan buruk sebagai berikut:
1.      QS. al-Baqarah: 114 dan 205
a.       Al Qurah Surah al Baqarah ayat 114 sebagai berikut:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.[47]
b.      Al Qurah Surah al Baqarah ayat 205 Sebagai berikut:
وَإِذَا توَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.[48]
2.      Alquran Surah al-Maidah ayat 114 sebagai berikut:
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".[49]
Ada yang menunjukkan perbuatan baik seperti
1.      Alquran Surah. al- Isra’ayat 19
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.[50]
2.      Alquran al-Anbiya’ayat 94
Ada yang menunjukkan perbuatan yang mencakup baik dan buruk seperti:
1.      Alquran Surah an-Najm ayat 39-40
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).[51]
2.      Alquran Surah al-Lail ayat 4
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ
Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.[52]
Kebanyakan perbuatan As-sa’yun itu pada perbuatan yang terpuji.[53]
 As-sa’yun dalam Alquran mengandung arti seperti:
1.      Berjalan Alquran Suirah al-Jum’ah ayat 9
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.[54]
2.      Bekerja seperti alquran Surah Al-Isra’ ayat 19
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.[55]
3.      Mempercepat atau bersegera seperti alquran Surah Al-Qasas ayat 20
وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ
Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu".[56]
C. Motivasi Alquran Dalam Bekerja
           Motivasi kerja dalam Islam adalah untuk mencari nafkah yang merupakan bagian dari ibadah. Motivasi kerja dalam Islam bukanlah mengejar hidup hedonis, bukan juga untuk status, apalagi untuk mengejar kekayaan dengan segala cara melainkan untuk beribadah, sebagaimana tujuan manusia diciptakan.
Allah menciptakan bumi untuk memberi kemudahan bagi manusia untuk menjadi penghuni sekaligus pengelolanya. Manusia dipersilakan menelusuri bumi (mencari rizki, bertamasya dll.) tetapi harus ingat kehidupan dunia hanya sementara dan manusia harus kembali kepada Allah. Kehidupan dunia diperumpamakan seperti air hujan yang tidak pernah menetap di sebuah tempat, dan tidak langgeng dalam suatu keadaan, bersifat sementara, tidak akan lama apalagi abadi. Oleh karena itu waspadalah pada kehidupan dunia. Amal yang kekal abadi adalah amal saleh. [57]
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.[58]
 Di ayat lain:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَبِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثوَابًا وَخَيرٌ أَمَلًا
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.[59]
            Allah SWT juga berfirman sebagai berikut:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?.[60]

Sesungguhnya kemauan kerja merupakan hal yang fitrah dalam kejiwaan manusia yang hukumnya telah diputuskan oleh kebutuhan manusia untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Islam mempertajam, mempersiapkan dan mendorong kemauan ini agar tercapai tujuan yang ingin dicapai oleh manusia. Dapat kita rasakan hal itu ketika Islam menanamkan dalam jiwa manusia bahwa usaha yang baik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari iman dan bahwa ia wajib berusaha dan bersungguh-sungguh kearah itu.[61]
            Rasulullah saw. pernah mengembalakan kambing milik penduduk Makkah sebelum menjadi Nabi, dan bekerja memperdagangkan harta milik Khadijah Ummul Mukminin r.a. para sahabat juga bekerja sendiri-sendiri, dan kaum muhajirin pun sibuk berjual beli di pasar. Maka Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seorang pun memakan satu makanan yang lebih baik dari apa yang ia makan dari hasil kerja tangannya, dan sesungguhnya Nabi Daud itu makan dari hasil kerja tangannya.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥal- Bukharȋ  :1998)
“Abi Sakir dari Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya dari kakeknya, Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya maka ia mendapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni Allah.” (Thabrānī,Ahmad,   Al-Mu’jam al-Ausath Juz 7 : 1995)
Hadis riwayat Thabrani dipenjelasan kitab Al-Mu’jam al-Ausath Juz 7 dinyatakan dhaif sebagaimana yangdikatakan oleh   al-Haitsamī:pada nsanadnya banyak yang tidak diketahui dari mereka, dan alberkata al-Hafidd az-Zaid al-‘Arāfī,sanadnya dhaif dan dari keumuman hadis Akan tetapi hadis ini dapat dijadikan motivasi dalam fadhilatul ‘amal
Adapun mengenai pemberian ujrah (upah) di dalam kitab Ṣāḥȋḥ Bukhari banyak terdapat hadis Rasul mengenai upah secara khusus ditulis dalam Kitab Ijarah. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi bekerja selain mengharapkan pahala dari Allah juga tidak bisa menafikan pegharapan imbalan dalam bentuk materi.

D. Penghargaan Alquran Dalan Bekerja
           Kerja bukanlah sekedar memenuhi kebutuhan, tetapi merupakan aktivitas kehidupan yang bernilai religius dan keagamaan. Doktrin Islam mengajarkan bahwa nilai dari setiap bentuk kerja tergantung pada niat. Dengan bekerja manusia dapat melanjutkan kehidupannya dalam menjalankan amanat Tuhan, dan bagaimana mendirikan kehidupan yang baik. (Salah satu bentuk kerja yang banyak mendapat pujian dalam Alquran adalah aktivitas yang bergerak dalam bidang ekonomi.[62]
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُو
“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.[63]
Ayat ini menurut Imam Ar-Razi mengandung seluruh yang dibutuhkan seorang mukmin baik mengenai agama, dunia, kehidupan, dan akhiratnya. Dari susunan kata dalam ayat tergambar dua hal pertama, di satu sisi tampak nada targhib (dorongan) bagi orang-orang yang taat, Kedua di sisi lain nampak nada tarhib (ancaman) bagi orang-orang yang berbuat maksiat.
Maksudnya, bersungguh-sungguhlah kamu untuk berbuat sesuatu demi masa depanmu karena segala perbuatanmu akan mendapatkan haknya di dunia maupun di akhirat. Di dunia perbuatan tersebut akan disaksikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Jika berupa ketaatan, ia akan mendapatkan pujian dan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Namun, jika berupa kemaksiatan ia akan mendapatkan hinaan di dunia dan siksaan yang pedih di akhirat.[64]
Perbuatan disini ada yang dilakukan dengan ikhlas dan ada yang dilakukan dengan riya.Allah akan membalas perbuatan yang baik akan mendapat balasan yang baik dan yang buruk akan mendapat baasan buruk.[65]
Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al-Manar menerangkan makna ayat tersebut begini: Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia, akhirat, diri dan umatmu. Karena yang akan dinilai adalah pekerjaanmu, bukan alasan yang dicari-cari; pun bukan pengakuan bahwa Anda telah berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat pada hakikat tergantung pada perbuatan Anda. Allah mengetahui sekecil apapun dari perbuatan tersebut, maka Allah menyaksikan apa yang Anda lakukan dari kebaikan maupun keburukan. Karenanya, Anda harus senantiasa waspada akan kesaksian Allah, baik itu berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu Anda harus senantiasa menyempurnakannya (itqan), ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan ketaatan sekecil apapun.[66]
Menurut penulis, pada intinya, ayat di atas menegaskan pentingnya beramal. Bahwa, yang akan menjadi tolok ukur keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat bukan semata konsep yang ia hafal, melainkan sejauh mana ia mampu mengamalkan teori yang telah diketahuinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[67]

Di ayat lain allah SWT berfirman:
وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.[68]
Kemudian di ayat lain:
۞ إِنَّ رَبَّكَ يعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقرَءُوا مَا تيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 …Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[69]

Islam menganggap kerja sebagai cara yang paling utama untuk mencari rezeki dan tiang pokok produksi. Sesungguhnya Allah akan memberikan kepada orang muslim yang bekerja suatu kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Allah akan memberikan balasan kepadanya pahala yang lebih baik sesuai dengan Firman Allah sebagai berikut:
            وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).[70]
            Selanjutnya dalam surah an-Nisa’ ayat 32 sebagai berikut:
وَلَا تتَمَنوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بعْضَكُمْ عَلَىٰ بعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[71]

Karena bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban, dalam kaidah fiqh orang yang menjalankan kewajiban akan mendapat pahala, sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa.
Berdasarkan kaidah ushul fiqhnya thalabulāifar haldatun ba’dal fardah, [72] yaitu mencari yang halal adalah wajib sesudah yang wajib. Oleh karena itu, bekerja merupakan kewajiban. Sehingga tak heran jika Umar bin Khatab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid sementara mentari sudah bersinar.
Menurut penulis, Alquran memberikan pengertian dalam perasaan dan hati nurani orang yang beriman bahwa bumi dengan keluasannya adalah lapangan kerjanya dan lapangan bergeraknya. Jangan pernah membatasi kemauannya yang besar dan jangan pula berhenti menggunakan berbagai kesempatan kecuali yang telah Allah batasi menurut batasan-batasan halal dan haram. Beberapa sabda Rasul tentang penghargaan terhadap orang yang bekerja:
“Menceritakan kepada kami, Ibn Birqan dari Barid bin al-asam adi Abi Hurairah berkata, bersabda Rasulullah saw. sesungguhnya Allah tidaklah memandang kepada bentuk rupa dan hartamu, akan tetapi Dia melihat hati dan perbuatanmu.” (Muslim, Abi Husain, Ṣāḥȋḥ Muslim, t.t.)
“Menceritakan kepada kami Amru bin Usman berkata aku mendengangr Musa bin Thalhah bercerita, sesungguhnya Hakim bin Hizam menceritakannya, Sesungguhnya Rasulullah bersabada, keutamaan atau sebaik-baik sedekah dari kekayaan yang jelas, dan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. (Muslim, Abi Husain, Ṣāḥȋḥ Muslim, t.t.)

“Menceritakan kepada kami Abu Iwanah dari Qatadah dari Anas ibn Malik ra. berkata, tidaklah seorang muslimpun yang mau bercocok tanam lalu termakan darinya seekor burung atau hewan lainnya, kecuali ia mendapatkan pahala sedekah dengannya” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ,1998)
“Dari  Ibnu  Umar  Nabi  Saw  Bersabda  :  Berikanlah  upah  orang  upahan  sebelum  kering  keringatnya”(Muhammad, Abi Abdullah, Sunan Ibnu Majjah, 1992).
Kata ujrah terdapat di dalam Alquran di antaranya:
a. Alquran surah Al-Qashash ayat 26
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".[73]
b. Al quran surah at-Thalaq ayat 6.
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَىٰ
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.[74]
c. Alquran surah Yunus ayat 72
فَإِنْ توَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِي
Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).[75]
d. Alquran surah Al-Ankabut ayat 58
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِي
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal. [76]

e. Alquran surah Yusuf ayat 57
وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يتَّقُونَ
Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.[77]
 Dalam Islam bekerja bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga untuk memelihara harga diri dan menjunjung martabat kemanusiaan. Maka bekerja dalam Islam menempati posisi yang mulia.
Islam menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Ketika seseorang kelelahan setelah pulang kerja, maka Allah SWT. mengampunkan dosanya saat itu juga. Selain itu orang yang bekerja dengan tangannya sendiri, baik untuk kebutuhannya maupun kebutuhan keluarganya dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah. Sehingga Islam memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang berusaha dengan sekuat tenaga dalam mencari nafkah. Sebagai mana firman Allah:
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. [78]
Di ayat alain Allh juga mengatakan:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.[79]
Menurut penulis, yang ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama atas perbuatan baiknya, Allah akan memberikan ganjaran yang lebih baik dari apa yang telah manusia lakukan dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Ayat ini tidak membedakan adanya perbedaan dalam porsi pahala bagi manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
“Dari Mansur ,dari Abi wa’il, dari Masyruq, dari ‘Aisyah ra. berkata: Bersabda Nabi saw. : Apabila seorang istri membelanjakan sebagian makanan dari rumahnya tanpa mendatangkan kerusakan, maka baginya ganjaran sesuatu yang telah dinafkahkan dan bagi suaminya mendapat sesuatu yang ia usahakan dan bagi penjaganya mendapat pahala yang sepadan dengan itu, sebagian mereka tidak bisa mengurangi sebagian yang lain sedikitpun.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ , 1998)
Hadis di atas menunjukkan bahwa peran suami sebagai pencari nafkah atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah dan istri berperan atau bekerja sebagai pelaksana amanah dalam memenuhi kebutuhan rumah ini masing-masing memperoleh ganjaran pahala.
E. Celaan Alquran Bagi Orang Yang Pemalas
           Rasulullah Muhammad SAW melarang umatnya meminta-minta dan memohon derma dan menyuruh penderita cacat mempergunakan lengan dan kekuatannya untuk berusaha memperoleh kesejahteraan hidupnya. Rasulullah memerintahkan mereka bekerja dengan kemauan kerja dan memberinya dorongan agar tidak merasa lemah dan mengharapkan belas kasih orang lain. Rasululah saw. bersabda:
Dari Zubair bin Awwam ra. berkata: Nabi saw. bersabda, sesungguhnya dari kalian mengambil tali, maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang banyak.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al-Bukharȋ , 1998)
“Dari Anas bin Malik ra. ia berkata Rasulullah saw. memohon perlindungan seraya bersabda, ya Allah aku berlindung kepadamu dari kemalasan, aku berlindung kepadamu dari sifat penakut aku berlindung kepadamu dari usia renta dan aku berlindung kepadamu dari sifat kikir”. (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ ,1998)
“Menceritakan kepada kami Anas bin Malik berkata Rasulullah saw. bersabda, ya Allah aku berlindung kepadamu dari kesusahan, kemalasan, rasa takut, usia renta dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari azab kubur dan dari fitnah kehidupan dan kematian”. (Muslim, Abi Husain, Ṣāḥȋḥ Muslim).
Adapun doa di atas menunjukkan, bahwa ajaran Islam sangat membenci orang yang malas tidak mau bekerja dan tidak mau ikhtiar, pesimis dan sifat-sifat buruk lainnya. Rasulullah saw. melarang ummatnya duduk belaka dan bersikap menyerah atas kesusahan kesusahan-kesusahannya karena utang atau terdesak oleh kebutuhan. Hadis Abu Umamah di atas merupakan kalimat yang membuang perasaan lemah pada Abu Umamah dan mengubahnya menjadi giat bekerja. Kemudian Allah menghilangkan kesusahannya dan menyelesaikan utangnya. Dan alangkah banyak jiwa itu membutuhkan orang yang mampu membangkitkan kembali dan menggerakkan hati ketika kita merasa lemah. Akan tetapi tidak ada dorongan yang lebih kuat dari pada dorongan dan tekanan iman.
Menurut penulis, Islam mengajarkan manusia untuk bergerak, berusaha dan memanfaatkan bumi sebagai fasilitas yang diberikan Allah untuk memakmurkan dirinya dan sekitarnya, yaitu dengan memperhatikan hak-hak yang terkait dengan aktivitasnya. Aktivitas kehidupan manusia yang baik dan bermanfaat dinilai sedekah. Adapun sedekah merupakan ibadah. Akan tetapi Islam melarang aktivitas yang berlebihan atau eksploitasi. Islam mengajarkan hidup seimbang baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata, Rasulullah saw., bersabda kepadaku, Ya Abdullah, aku diberi kabar bahwa engkau berpuasa sepanjang siang dan bangun untuk salat sepanjang malam? Aku berkata, Benar ya Rasulullah. Beliau bersabda, janganlah engkau lakukan lagi. Puasalah sehari dan berbukalah sehari. Bangunlah dan tidurlah. Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu, mata mu mempunyai hak atasmu, isterimu mempunyai hak atasmu, dan tamumu mempunyai hak atasmu. Dan sesungguhnya cukuplah kiranya jika engkau puasa tiap-tiap bulan tiga hari. Maka untuk setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat. Sesungguhnya yang demikian itu sama dengan puasa sepanjang masa. Karna aku minta diperbanyak maka diperbanyak untukku. Aku berkata, wahai Rasulullah sesungguhnya aku sanggup. Beliau bersabdapuasalah seperti puasa Nabi Daud as. dan janganlah engkau ebih dari itu. Aku berkata, bagaimana puasa Nabi Daud as.. Beliau bersabda, setengah tahun. Ketika Abdullah telah tua, beliau berkata, seandainya aku menerima keringanan Nabi saw.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al- Bukharȋ , 1998)
            Dari hadis-hadis di atas menunjukkan, Nabi melarang umatnya meminta-minta dan duduk belaka, serta mendorongnya bekerja, seperti larangan beliau memberikan zakat kepada mereka yang mampu berusaha dan anjurannya untuk bersikap menahan diri. Dalam sebuah hadis dari Abdulah bin Adi bin Al-Khiyar, disebutkan bahwa dua orang laki-laki pernah datang kepada Rasulullah meminta sedekah, maka berulang-ulang beliau memandangi mereka. Ketika beliau melihat bahwa kedua orang itu masih kuat untuk bekerja, maka Beliau bersabda: “Kalau kalian mau, akan kuberi, tapi tidak ada bagian padanya untuk orang kaya dan orang yang masih kuat berusaha”. Berkata imam Ahmad bin Hambal: “Betapa bagusnya hadis ini”. Selanjutnya As-San’ani berkata pula hadis ini termasuk dail-dalil haramnya sadaqah kepada orang kaya dan orang yang masih kuat berusaha, sebab pekerjaannya itulah menjadikan dia dihukumi kaya.” (Al-Bukhari, Isma’il, Ṣāḥȋḥ al-Bukharȋ, 1998).
Ketika Nabi Yusuf diangkat sebagai kepala Badan Logistik Kerajaan Mesir yang diminta rajanya adalah kuat dan amanah. ".(QS. Al- Qasas (28): 26)
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.[80]
Begitu pula pada pengangkatan Nabi Yusuf diangkat sebagai pekerja dalam keluarga Nabi Syu’aib, catatan yang diberikan kepada dirinya adalah karena dia orang yang kuat dan amanah. (QS Yusuf (12): 54)
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".[81]
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Rasulullah saw. bersabda sedang beliau berada di atas mimbar. Beliau menyebutkan tentang sedekah dan menjauhi perbuatan meminta-minta, karena tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah; tangan di atas adalah yang memberi dan tangan di bawah adalah yang meminta.[82]
Ketika kaum muslimin berhijrah ke Madinah, Rasululah mempersaudarakan Abdurahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad bin Rabi’ berkata, “Aku adalah yang paling banyak hartanya di antara orang Anshar, aku akan membagi separuh hartaku untukmu, dan pilihlah di antara istriku yang kamu sukai, aku akan menyerahkannya padamu.apabila ia telah halal kelak , kawinilah. Berkatalah Abdur Rahman, “Aku tidak membutuhkan semua itu, tetapi adakah pasar untuk berdagang?”Sa’ad menjawab: “Pasar Quenuqa.”maka datanglah Abdur Rahman membawa susu kering dan samin lalu ia meneruskan perjalanannya, dan begitulah seterusnya sehingga suatu hari ia datang menghadap Rasulullah saw. dan padanya ada bekas kekuning-kunigan. Rasulullah saw. bertanya: “Sudahlah engkau menikah?” Jawab Abdur Rahman “Ya” Rasul bertanya lagi “Dengan siapa?” Jawabnya “Seorang wanita dari Anshar” Rasul bertanya “berapa banyak mas kawin yang kau berikan kepadanya?” Jawabnya pula “Setimbang biji kurma dari emas”. Bersabda Rasulullah kepadanya: “Adakanlah walimah meskipun dengan seekor kambing.[83]

Tatkala Nabi saw. hendak membangun masjid kaum musliminpun ikut membangunnya. Rasululah bersama mereka membawa batu-batu. Demikian juga ketika kaum muslimin membuat parit disekitar kota Madinah, Nabi saw. ikut pula beserta mereka melubangi dan menjagainya. Beliau menunjukkan bahwa bekerja adalah jalan usaha.
            Dalam contoh di atas terkandung motivasi pokok bagi orang Islam untuk menggunakan kekuatannya dengan mempekerjakan kedua tangannya, yaitu mencari anugerah Allah dalam melaksanakan usaha yang dibolehkan syariat dan mencari anugerah Allah dalam melaksanakan hak yang merupakan fitrah, dan selanjutnya menempuh cara yang memudahkan lapangan kerja dan jasa bagi semua manusia demi kesejahteraan umat dalam berbagai lapangan, baik pertanian, perdagangan maupun industri.[84]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bekerja merupakan kewajiban setiap muslim karna bekerja itu identitas manusia yang berdasarkan prinsip iman (tauhid) yang dapat meninggikan derajatnya. Bekerja bukan hanya memuliakan dirinya sebagai manusia, tetapi juga sebagai manifestasi dari amal saleh, dan mempunyai nilai ibadah yang luhur dihadapan Tuhan sehingga dapat mengekspresikan dirinya sebagai manusia, makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna di dunia. Setiap pekerjaan yang dilakukan karena Allah sama halnya dengan melakukan Jihādf Sabῑlillah. Jihād memerlukan motivasi, dan motivasi memerlukan pandangan hidup yang jelas. Itulah yang disebut dengan etos. Etos kerja seorang muslim harus selalu dilandasi Alquran dan Hadis.
Alquran menganjurkan setiap individu untuk aktif bekerja dan memproduktifkan segala aspek yang berguna untuk kebutuhan masyarakat. Salah satu manfaat salat adalah menerangkan fikiran dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mampu mengendalikan diri, dari mabuk kerja (workaholic) yang mungkin dialami seseorang sehingga terjadi proses penjernihan fikiran, kreativitas dan gagasan inovatif. Motivasi kerja dan optimisme untuk mencari rezeki bisa timbul dengan mengingat firman Allah. Motivasi kerja dalam Islam bukanlah mengejar hidup hedonis, bukan juga untuk status, apalagi untuk mengejar
B.     Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, maka penulis menyarankan sebagai berikut :
1.  Bagi perkembangan ilmu pengetahuan diharapkan agar bisa dijadikan sebagai kerangka acuan atau rujukan dalam menelaah atau meneliti tentang Etos Kerja menurut al-quran.
2.   Bagi masyarakat luas khususnya ummat Islam perlu lebih ditingkatkan upaya sosialisasi intensif melalui pengajian, ceramah agama, disikusi dan lain-lain tentang Etos Kerja dalam Perspektif Islam.
3.  Bagi penulis sendiri Tulisan ini adalah sebagai salah satu tugas berstruktur pada mata Kuliah Tafsir hadist Tematik di Program Doktor Ekonomi Islam UIN Sumatera Utara.






DAFTAR PUSTAKA


Al-Quranul Karim, Al-Quran Digital

Al-‘Assa, Ahmad Muhammad,  dan Fathi Ahmad Abdul Karim,, Sistem, Prinsip,
dan Tujuan Ekonomi Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1999.

al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan, Terj. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiyah
            Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasululah, Jakarta:
Rabbani Press, 2003.

Atthabari, Abu Djakfar Muhammad,Tafsir Atthabari Terjemahan Pustaka Azam,
Jakarta: Pustaka Azam, 2012.

Baqi, Muhammad Fuad Abdul, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alfazhil 1364 H

Clifford, “Kebudayaan dan Agama”, Yogyakarta: Kanisius, 2000.

Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Edwin, Mustafa, Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam, Jakarta: J-Art, 2007.

Ewzar, Hadist Ekonomi, Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 2013.

Harahap, Sofyan S, Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, Jakarta: Salemba Empat,
2011.

Kahn, Muhammad Akram, Ajaran Nabi Muhammad SAW. Tentang Ekonomi:
Kumpulan Hadis-hadis Pilihan Tentang Ekonomi, Jakarta: Bank
Muamalat, 1996.

Keraf, Sonny, Etika Bisnis; Tuntutan dan Relevansinya Yogyakarta: Kanisius,
2010.

Khallaf, Abdul Wahhâb Ilmu Ushul al-Fiqh, Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul
Fiqh, terj. Masdar Helmi, Bandung : Gema Risalah Pres, 1996.

Nuruddin, Amiur, Kalam: Membangun Paradigma Ekonomi, Bandung: Cita
pustaka Media, 2008.

Raghib, Al Alamatul, MufrādātāzAlfān,Alqur, Beirut: D al Qalam, 2002.

Ridho Rasyid, Tafsir al manar Vol 11, Kairo: Al-ad, 1367.H.

Shihab, Muhammad Quraish, Tafsir Al-Misbah Vol. 10, Jakarta:Lentera Hati,
2003

---------, Muhammad Qurash, Ensikopedia Al-Qur’an, Jakarta: Dirasah al-Alfadz,
2007.

Sinamo, Jansen H., 8 Etos Kerja Profesional, Jakarta: PT. Malta Printindo, 2008.

Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang: CV.
Widya Karya, 2009.

Suma, Muhammad Amin, Tafsir Ayat Ekonomi, Jakarta: Amzah, 2013.

Tarigan, Azhari Akmal, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, Medan:Perdana Mulya Sarana,
2012.
Tasmara, Toto, Membudayakan Etos Kerja Islami, Jakarta: Gema Insani, 2002.



[1] Alquran surah ke (6) Al-An’am ayat 132
[2] Alquran Surah ke (67) Al-Mulk ayat 2.
[3] Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 15
[4] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 219.
[5] Sonny Keraf, Etika Bisnis; Tuntutan dan Relevansinya (Yogyakarta: Kanisius, 2010), h. 14
[6] Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa,1995), h. 25.
[7] Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: CV. Widya Karya, 2009), h. 309.
[8] Sofyan S Harahap, Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2011), h. 69.
[9] Ewzar, Hadist Ekonomi, (Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 2013), h. 2.
[10] Abu Djakfar Muhammad Atthabari,Tafsir Atthabari Terjemahan Pustaka Azam, (Jakarta: Pustaka Azam, 2012).
[11] Clifford, “Kebudayaan dan Agama”, (Yogyakarta: Kanisius, 2000),h. 50.
[12] Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: CV. Widya Karya, 2009), h. 242.
[13] Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), h.  25.
[14] Jansen H. Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional, (Jakarta: PT. Malta Printindo, 2008), h. 26.

[15] Muhammad Amin Suma, Tafsir Ayat Ekonomi, (Jakarta: Amzah, 2013)
[16] Alquran Surah ke (9) al-Taubah ayat 105.
[17] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alfazhil (1364 H)
[18] Al Alamatul Ragnhib, MufrādātāzAlfān,Alqur (Beirut: D al Qalam, 2002).
[19]  Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alfazhil (1364 H)
[20] Al Alamatul Ragnhib, MufrādātāzAlfān,Alqur (Beirut: D al Qalam, 2002).
[21] Alquran Surah ke (18) al Kahfi ayat 79.
[22]  Azhari Akmal Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, (Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).

[23] alquran Surah ke (27)  An-Naml ayat 88.
[24] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alf (1364 H)
[25] Alquran Surah ke (20) Thaha ayat 41.
[26] Alquran surah ke (27) An Naml ayat ke 88.
[27] Alquran Surah ke (7) al’ a’raf ayat 137.
[28] Alquran Surah ke (20) ayat 69.
[29] Alquran Surah ke (21) al Anbiya Ayat 80.
[30] Alquran Surah ke (11) Hud ayat 37.
[31] Azhari Akmal Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, (Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).
[32]  M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Vol. 10, (Jakarta:Lentera Hati, 2003)
[33] Alquran Surah ke (2))  Al-Baqarah Ayat 197.
[34] Alquran Surah ke (2) al baqarah ayat 279
[35]  Azhari Akmal Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, (Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).
[36] Alquran surah ke (4) Annisa ayat 32
[37] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alf (1364 H)

[38] Alquran Surah ke (2) ayat 79.
[39] Alquran Surah ke (111) ayat 2
[40] Alquram surah ke (2) ayat 267.
[41] Alquran Surah ke (2) albaqarah ayat 134.
[42] Muhammad Qurash Shihab, Ensikopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Dirasah al-Alfadz, 2007).
[43] Azhari Akmal Tarigan, Tafsir Ayat-ayat Ekonomi, (Medan:Perdana Mulya Sarana, 2012).
[44] Al Alamatul Ragnhib, MufrādātāzAlfān,Alqur (Beirut: D al Qalam, 2002).)
[45] Alquran surah ke (53) annajam ayat 39-40
[46] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasāzil li alf (1364 H)
[47] Alquran Surah ke (2) al baqarah ayat 114
[48] Alquran Surah ke (2) al baqarah ayat 205
[49] Alquran Surah ke (5) aalmaidah ayat 114
[50] Alquran Surah ke (17) al Isra ayat 19.
[51] Alquran Surah ke (53)Annazm 30-40
[52] Alquran Surah ke (92) al Lail ayat 4.
[53] Al Alamatul Ragnhib, MufrādātāzAlfān,Alqur (Beirut: D al Qalam, 2002).
[54] Alquran Surah ke (62) al Jumah ayat 9.
[55] Alquran Surah ke (17) al Isra ayat 19.
[56] Alquran Surah ke (28) AL Qasas  ayat 20.
[57] Muhammad Amin Suma, Tafsir Ayat Ekonomi, Jakarta: AMZAH, 2013)
[58] alquran Surah ke (17) Al-Isra’ ayat 12.
[59] al quran surah ke (18)  al-Kahfi ayat 45-46.
[60] Alquran surah ke (67) al-Mulk( ayat 15-16.
[61] Ahmad Muhammad al-‘Assa,  dan Fathi Ahmad Abdul Karim,, Sistem, Prinsip, dan Tujuan Ekonomi Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999).
[62]  Amiur Nuruddin, Kalam: Membangun Paradigma Ekonomi, (Bandung: Citapustaka Media, 2008).
[63] Alquran Surah ke (9) At-Taubah ayat 105.
[64] t. (Imam Ar-Razi: 1994)
[65]  (Ath-Thabari: 2009)
[66] Rasyid Rodho, Tafsir al manar Vol 11, (Kairo: Al-ad, 1367)
[67]  Alquran surah ke (2) albaqarah ayat 264.
[68] Aquran Surah ke (3) Ali Imran  ayat 57.
[69] Alquran Surah ke (73) al Muzzammil ayat 20.
[70] Alquran Surah ke (53) Annajam ayat 31
[71] Alquran surah ke (4) Annisa ayat 32
[72] Abdul Wahab Khalāf, Ilmu Ushul Fiqh, (Kuweait: Darl Qalam, 1998), h. 36.
[73] Alquran Surah ke (28) al Qashas ayat 26
[74] Alquran Surah ke (65) Atthalaq ayat 6
[75] Alquran Surah ke (10) Yunus ayat 72
[76] Al quran surah ke (29) al ankabut ayat 58.
[77] Al quran surah ke (12) Yusuf ayat 57.
[78] Alquran surah ke (57) alhadid ayat 7.
[79] Alquran Surah ke (18) Anahal ayat 97.
[80] Alquran Surah ke (28) al Qashas ayat 26.
[81] Alquran Surah ke (12) Yusuf ayat 54.
[82]  Muhammad Akram Kahn, Ajaran Nabi Muhammad SAW. Tentang Ekonomi: Kumpulan Hadis-hadis Pilihan Tentang Ekonomi, Jakarta: Bank Muamalat, 1996).
[83] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Terj. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiyah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasululah, (Jakarta: Rabbani Press, 2003)
[84]Mustafa, Edwin, Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam, Jakarta: J-Art,2007). 

1 komentar: